Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Pembahasan Hiperinflasi?

Apa Itu Hiperinflasi?

Hiperinflasi adalah istilah untuk menggambarkan kenaikan harga yang cepat, berlebihan, dan di luar kendali dalam suatu perekonomian. Inflasi adalah ukuran laju kenaikan harga barang dan jasa, sedangkan hiperinflasi adalah inflasi yang meningkat pesat, biasanya berukuran lebih dari 50% setiap bulan.

Meskipun hiperinflasi adalah peristiwa yang jarang terjadi di negara-negara maju, hiperinflasi terjadi berkali-kali sepanjang sejarah di negara-negara seperti Cina, Jerman, Rusia, Hongaria, dan Argentina.

 

KUNCI PENTING

  • Hiperinflasi adalah istilah untuk menggambarkan kenaikan harga yang cepat, berlebihan, dan tidak terkendali dalam suatu perekonomian, biasanya dengan tingkatan yang melebihi 50% setiap bulan selama periode waktu tertentu.
  • Hiperinflasi dapat terjadi pada saat perang dan gejolak ekonomi dalam ekonomi produksi pokok, bersamaan dengan bank sentral yang mencetak jumlah uang yang berlebihan.
  • Hiperinflasi dapat menyebabkan lonjakan harga barang-barang kebutuhan dasar — ​​seperti makanan dan bahan bakar — karena mereka menjadi langka.
  • Hiperinflasi biasanya jarang terjadi, namun saat mereka muncul, hiperinflasi dapat menjadi tidak terkendali.

Baca jugaMenuai Manfaat Lebih Dulu dari Inflasi dalam Saham

 

Memahami Hiperinflasi

Hiperinflasi terjadi ketika harga telah naik lebih dari 50% setiap bulan selama periode waktu tertentu. Sebagai perbandingan, tingkat inflasi AS yang diukur dengan Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) biasanya kurang dari 2% per tahun, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja. CPI hanyalah indeks harga untuk sekeranjang barang dan jasa tertentu. Hiperinflasi menyebabkan konsumen dan bisnis membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli produk karena harga yang lebih tinggi.

Inflasi normal diukur dalam hal kenaikan harga bulanan, sedangkan hiperinflasi diukur dalam hal kenaikan harian eksponensial yang dapat mendekati 5 hingga 10% dalam sehari. Hiperinflasi terjadi ketika tingkat inflasi melebihi 50% dalam periode sebulan.

Bayangkan biaya belanja makanan yang awalnya $500 per minggu menjadi $750 per minggu di bulan berikutnya, menjadi $1.125 per minggu di bulan berikutnya dan seterusnya. Jika upah tidak sejalan dengan inflasi dalam suatu ekonomi, standar hidup rakyat turun karena mereka tidak mampu membayar kebutuhan pokok dan biaya hidup.

Hiperinflasi dapat menyebabkan sejumlah konsekuensi bagi perekonomian. Orang-orang dapat menimbun barang, termasuk barang yang mudah rusak seperti makanan karena kenaikan harga, yang pada nantinya, dapat mengakibatkan terjadinya kekurangan pasokan makanan. Ketika harga naik secara berlebihan, uang tunai, atau tabungan yang disimpan di bank berkurang nilainya atau menjadi tidak berharga karena uang tersebut memiliki daya beli yang jauh lebih kecil dari sebelumnya. Situasi keuangan konsumen memburuk dan dapat menyebabkan kebangkrutan.

Terlebih, orang-orang mungkin tidak menyetor uang mereka, institusi keuangan yang mengarah ke bank dan pemberi pinjaman keluar dari bisnis. Pendapatan pajak juga dapat turun jika konsumen dan bisnis tidak dapat membayar pajak tersebut, sehingga pemerintah gagal menyediakan layanan dasar.

 

Mengapa Terjadi Hyperinflasi

Meskipun hiperinflasi dapat dipicu oleh sejumlah alasan, di bawah ini adalah beberapa penyebab hiperinflasi yang paling umum.

Pasokan Uang Berlebihan

Hiperinflasi telah terjadi pada saat gejolak dan depresi ekonomi yang parah. Depresi adalah periode yang berkepanjangan dari ekonomi yang berkontraksi, yang berarti tingkat pertumbuhannya negatif. Sebuah resesi biasanya mengarah pada periode pertumbuhan negatif yang terjadi selama lebih dari dua kuartal atau enam bulan. Depresi, di sisi lain, dapat bertahan bertahun-tahun tetapi juga memunculkan tingkat pengangguran yang sangat tinggi, mengakibatkan kebangkrutan perusahaan dan individu, membuat output produktif yang lebih rendah, dan menjadikan pinjaman kredit atau kredit yang tersedia menjadi lebih sedikit. Respon terhadap depresi biasanya berupa peningkatan jumlah uang beredar oleh bank sentral. Uang ekstra dirancang untuk mendorong bank meminjamkan kepada konsumen dan bisnis untuk menciptakan pengeluaran dan investasi.

Namun, jika peningkatan jumlah uang beredar tidak didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan produk domestik bruto (PDB), hasilnya dapat menyebabkan hiperinflasi. Jika PDB, yang merupakan ukuran dari produksi barang dan jasa dalam suatu ekonomi, tidak tumbuh, bisnis mungkin menaikkan harga untuk meningkatkan laba dan tetap bertahan. Karena konsumen memiliki lebih banyak uang, maka mereka membayar harga yang lebih tinggi, yang mengarah pada inflasi. Ketika ekonomi semakin memburuk, perusahaan menagih lebih banyak, konsumen membayar lebih, dan bank sentral mencetak lebih banyak uang — yang mengarah ke lingkaran setan dan hiperinflasi.

 

Kehilangan Keyakinan dalam Ekonomi atau Sistem Moneter

Di masa perang, hiperinflasi sering terjadi ketika ada kehilangan kepercayaan pada mata uang suatu negara dan kemampuan bank sentral untuk mempertahankan nilai mata uangnya setelah perang tersebut. Perusahaan yang menjual barang di dalam dan di luar negeri menuntut premi risiko untuk menerima mata uang mereka dengan menaikkan harga. Hasilnya dapat menyebabkan kenaikan harga eksponensial atau hiperinflasi.

Jika pemerintah tidak mengelolanya dengan baik, warga negara juga dapat kehilangan kepercayaan pada nilai mata uang negara mereka. Ketika mata uang dianggap memiliki sedikit atau tidak ada nilai, orang mulai menimbun komoditas dan barang yang memiliki nilai. Ketika harga mulai naik, barang-barang pokok — seperti makanan dan bahan bakar — menjadi langka, membuat harganya semakin mahal. Akibatnya, pemerintah terpaksa mencetak lebih banyak uang untuk mencoba menstabilkan harga dan menyediakan likuiditas, yang hanya memperburuk masalah.

Seringkali, kurangnya kepercayaan tercermin dalam arus keluar investasi meninggalkan negara selama masa gejolak ekonomi dan perang. Ketika arus keluar ini terjadi, nilai mata uang negara tersebut terdepresiasi karena investor menjual investasi negara mereka dengan imbalan investasi negara lain. Bank sentral akan sering memberlakukan kontrol modal atau capital control, yang mana memberlakukan pelarangan pemindahkan uang ke luar negeri.

Baca juga: Definisi Metode Tinggi-Rendah

 

Contoh Hyperinflasi

Salah satu episode hiperinflasi yang lebih parah dan berkepanjangan terjadi di bekas Yugoslavia pada tahun 1990-an. Di ambang pembubaran nasional, negara tersebut telah mengalami inflasi pada tingkat yang melebihi 75% setiap tahun. Ditemukan bahwa pemimpin provinsi Serbia saat itu, Slobodan Milosevic, telah menjarah perbendaharaan nasional dengan meminta bank sentral Serbia mengeluarkan $1,4 miliar pinjaman kepada kroninya.

Hal tersebut memaksa bank sentral yang dimiliki pemerintah mencetak uang dalam jumlah berlebih agar dapat mengurus obligasi keuangannya. Hiperinflasi dengan cepat menyelimuti perekonomian negara tersebut, menghapus apa yang tersisa dari kekayaan negara, memaksa orang-orangnya untuk bertukar barang. Tingkat inflasi yang hampir dua kali lipat terjadi setiap hari sampai mencapai tingkat yang tak terduga yaitu sebesar 300 juta persen per bulan. Bank sentral terpaksa mencetak lebih banyak uang hanya untuk menjaga agar pemerintah tetap berjalan ketika ekonomi berputar turun.

Pemerintah dengan cepat mengambil kendali produksi dan upah, yang menyebabkan kekurangan pangan. Penghasilan turun lebih dari 50%, dan produksi hampir berhenti. Akhirnya, pemerintah mengganti mata uangnya dengan maat uang Jerman, yang membantu menstabilkan perekonomian.

 

Sumber: investopedia.com