Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Apa itu January Effect?

Apa itu January Effect?

January Effect atau Efek Januari adalah kenaikan musiman yang dirasakan dalam harga saham selama bulan Januari. Analis umumnya mencirikan rally ini dengan peningkatan pembelian, yang mengikuti penurunan harga yang biasanya terjadi pada bulan Desember ketika investor, terlibat dalam pemanenan pajak untuk mengimbangi kesadaran keuntungan modal, prompt sell-off. Dengan kata lain investor menggunakan bonus tunai akhir tahun untuk membeli investasi pada bulan berikutnya.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan J-Curve

 

KUNCI PENTING

  • January Effect adalah kecenderungan terjadinya kenaikan musiman dalam saham di bulan itu.
  • Sejak tahun 1928 hingga 2018, saham S&P 500 naik sampai 62% di hampir setiap Januari (56 kali dari 91).
  • January Effect secara teori terjadi ketika investor menjual pemenang untuk dikenakan pajak keuntungan modal akhir tahun pada bulan Desember dan menggunakan dana tersebut untuk berspekulasi pada performa yang lebih lemah.
  • Seperti anomali pasar lainnya dan efek kalender, January Effect dianggap oleh beberapa orang sebagai bukti terhadap hipotesis pasar yang efisien.

 

Memahami January Effect

January Effect adalah sebuah hipotesis, dan sama seperti semua efek yang berhubungan dengan kalender, january effect menunjukkan bahwa pasar secara keseluruhan tidak efisien, karena pasar yang efisiena secara alami akan membuat efek ini menghilang. January Effect tampaknya lebih memilki pengaruhi terhadap small caps daripada mid atau large caps karena hal ini dianggap kurang likuid.

Sejak awal abad ke-20, data menunjukkan bahwa kelas aset ini telah mengungguli pasar secara keseluruhan pada Januari, terutama menjelang pertengahan bulan. Bankir investasi, Sidney Wachtel, pertama kali mengamati efek ini pada tahun 1942. Akan tetapi, tren historis ini kurang begitu menonjol dalam beberapa tahun terakhir karena pasar tampaknya telah menyesuaikannya.

Alasan lain yang diungkapkan oleh para analis bahwa January Effect kurang penting pada 2018 adalah bahwa lebih banyak orang menggunakan rencana pensiun yang dilindungi pajak dan oleh karenanya mereka tidak memiliki alasan untuk melakukan penjualan pada akhir tahun karena kehilangan pajak.

 

Penjelasan January Effect

Selain memanen rugi-pajak dan melakukan pembelian kembali, investor juga memasukkan bonus uang tunai ke pasar, dengan kata lain January Effect berkaitan dengan psikologi investor. Beberapa investor percaya bahwa Januari adalah bulan terbaik untuk memulai program investasi atau mungkin menindaklanjuti resolusi Tahun Baru untuk mulai berinvestasi untuk masa depan.

Sedangkan investor lainnya menyatakan bahwa reksa dana telah mengelola pembelian saham dengan performa tinggi pada akhir tahun dan menghilangkan kerugian yang dipertanyakan demi mempertahankan performa dalam laporan akhir tahun mereka, kegiatan ini dikenal dengan sebutan “window dressing”. Namun, hal ini tidak mungkin terjadi, karena pembelian dan penjualan akan memiliki dampak besar pada large cap.

Bukti lain yang mendukung gagasan bahwa individu melakukan penjualan demi pajak adalah studi yang dilakukan oleh D’Mello, Ferris, dan Hwang (2003), mereka menemukan bahwa terjadi peningkatan penjualan untuk saham yang mengalami kerugian modal besar sebelum akhir tahun dan banyak juga penjualan saham dengan keuntungan modal setelah awal tahun. Terlebih lagi, ukuran perdagangan untuk saham dengan kerugian modal besar cenderung menurun sebelum akhir tahun dan terjadi pula penurunan untuk saham dengan keuntungan modal setelah awal tahun.

Jual-beli akhir tahun juga menarik pembeli yang tertarik pada harga yang lebih rendah, mengetahui penurunan tidak didasarkan pada fundamental perusahaan. Dalam skala besar, hal ini dapat mendorong harga menjadi lebih tinggi di bulan Januari.

Baca juga: Tentang International Monetary Fund (IMF)

 

Studi dan Kritik

Suatu studi, menganalisis data dari tahun 1904 hingga tahun 1974, akhirnya disimpulkan bahwa pengembalian rata-rata untuk saham selama bulan Januari adalah lima kali lebih besar dari bulan lainnya selama tahun tersebut, hal ini terutama terjadi pada saham dengan kapitalisasi kecil. Perusahaan investasi Salomon Smith Barney melakukan penelitian yang menganalisis data dari tahun 1972 hingga 2002 dan menemukan bahwa saham-saham dari indeks Russell 2000 mengungguli saham-saham dalam indeks Russell 1000 (saham-saham berkapitalisasi kecil versus saham-saham berkapitalisasi besar) di bulan Januari.

Performa luar bisa ini meningkat sebesar 0,82%, namun saham-saham ini kemudian memiliki kinerja buruk selama sisa tahun tersebut. Data menunjukkan bahwa January Effect menjadi semakin tidak penting.

Seorang mantan Direktur dari Vanguard Group, Burton Malkiel, penulis “A Random Walk Down Wall Street,” telah mengkritik January Effect, yang menyatakan bahwa anomali musiman seperti itu tidak memberikan investor peluang yang dapat diandalkan. Dia juga menyatakan bahwa January Effect memilki dampak yang begitu kecil sehingga biaya transaksi yang diperlukan untuk mengeksploitasi hal tersebut pada dasarnya membuatnya tidak menguntungkan. Dikatakan juga bahwa sekarang ini sudah terlalu banyak orang untuk January Effect sampai harganya telah masuk ke pasar,dan menghilangkan dampak January Effect ini.

 

Sumber: investopedia.com