Mengenal Kebijakan Moneter Bank Sentral Eropa

Setiap negara di dunia ini memiliki bank sentral sendiri yang bertugas mengatur kebijakan moneter di negara tersebut. Namun, Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) merupakan entitas yang unik karena dibentuk oleh 19 bank sentral lainnya dalam lingkup Zona Euro. Kebijakan moneter bank sentral Eropa pun mencakup tugas sebagai “bank sentral-nya bank sentral” dan “bank-nya negara-negara Zona Euro”, bukan hanya sebagai “bank-nya bank” seperti bank sentral pada umumnya.

Baca juga : Analisa Euro Menjelang Pengumuman Suku Bunga ECB Oktober 2018

Ke-19 negara yang dicakup oleh bank sentral Eropa yaitu Austria, Belgia, Siprus, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Latvia, Lithuania, Luksemburg, Malta, Belanda, Portugal, Slovakia, Slovenia, dan Spanyol. Jumlah negara di bawah naungan bank sentral Eropa ini bisa bertambah, tergantung jumlah negara yang tergabung dalam Zona Euro.

Mengenal Kebijakan Moneter Bank Sentral Eropa

Tugas Utama Bank Sentral Eropa

Tugas utama bank sentral Eropa adalah menjaga inflasi agar tetap terkendali dalam kisaran target tertentu. Saat ini, target inflasi tahunan berada pada level 2 persen.

Apabila inflasi lebih rendah dari 2 persen, maka bank sentral Eropa harus mengambil kebijakan untuk melonggarkan kebijakan moneter (Loose Monetary Policy). Contoh kebijakan tersebut antara lain:
1. Menurunkan suku bunga.
2. Targeted Longer-Term Refinancing Operations (TLTRO).
3. Menjalankan stimulus moneter dalam bentuk pembelian sekuritas (obligasi).
4. Menghimbau bank-bank agar menggiatkan penyaluran kredit.

Sedangkan apabila inflasi lebih tinggi dari 2 persen, maka bank sentral Eropa dapat memutuskan untuk mengetatkan kebijakan moneter (Tight Monetary Policy) dengan cara:
1. Menaikkan suku bunga.
2. Memangkas stimulus moneter dengan menghentikan pembelian sekuritas (obligasi).
3. Menarik stimulus moneter dengan melakukan penjualan sekuritas (obligasi).

Investor dan trader di pasar uang biasanya lebih suka jika bank sentral Eropa menaikkan suku bunga ketimbang menurunkan suku bunga, karena kebijakan ini berhubungan dengan imbal hasil investasi. Oleh karenanya, kebijakan moneter longgar dapat menyebabkan pelemahan Euro, sedangkan kebijakan moneter ketat dapat mendorong penguatan Euro.

Tugas Lain Bank Sentral Eropa

Sebagaimana diungkapkan di atas, bank sentral Eropa juga bertugas menjadi bank-nya negara-negara Zona Euro. Mengapa demikian? Karena obligasi yang dibeli dan dijual oleh bank sentral Eropa dalam pelaksanaan kebijakannya mencakup pula obligasi terbitan pemerintah-pemerintah Jerman, Prancis, Italia, dkk. Jadi, kebijakan moneter yang dilaksanakan oleh bank sentral Eropa akan berkaitan erat dengan kebijakan ekonomi dan kondisi finansial Zona Euro.

Baca juga : Euro Rally karena Biaya Pinjaman Italia

Di sisi lain, hal ini bisa menjadi bumerang apabila ada negara anggota Zona Euro yang dilanda krisis utang atau mengalami pailit (default), seperti Yunani beberapa tahun lalu. Efeknya bisa berdampak domino bagi negara-negara anggota lain yang barangkali kondisi ekonominya sehat-sehat saja. Bank sentral Eropa harus menyeimbangkan situasi agar tak memihak salah satu sisi, sekaligus tetap menjamin pencapaian target inflasi.

admin :
Disqus Comments Loading...