Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Dapatkah Perusahaan Ekuitas Swasta Mengubah Krisis Menjadi Peluang

Peforma mereka sangat berarti bagi investor dan ekonomi lebih luas. Pengelola modal yang jelas paling kuat terbukti bisa menjadi apapun kecuali selama krisis keuangan pada tahun 2007-2009. Bos-bos bank terbukti telah mengambil terlalu banyak risiko. Manajer-manajer bintang hedge-fund telah menderita kerugian. Tahun-tahun semenjak itu pun juga tidak membaik. Bank-bank yang telah terikat dalam ikatan regulator dan pengembalian di hedge funds juga tidak mengesankan.

Industri private-equity (PE) atau Ekuitas Swasta menjadi pengecualian terhadap trend ini. Hedge funds telah menyebar dana selama krisis pada tahun 2007-2009 telah berakhir menghasilkan pengembalian rata-rata 18%. Dan hal itu menjadi jauh lebih penting. Investor, dari sumbangan-sumbangan universitas hingga dana pensiun umum, telah menyerahkan lebih banyak uang tunai kepada manajer PE (lihat grafik). Perusahaan-perusahaan PE terbesar telah berevolusi menjadi konglomerat keuangan yang sedang menaungi buy-out, property dan pasar kredit, mengambil alih beberapa peran yang telah digunakan Wall Street. Aset-aset yang dikelola telah membengkak hingga lebih dari $4trn. 8.000 perusahan dijalankan oleh PE di Amerika menyumbang 5% dari PDB-nya, dan bagian yang sama dengan tenaga kerjanya.

Baca juga: Apa itu Ekuitas?

Sekarang resesi liar yang lain sedang berjalan lancar dan kinerja PE adalah pertanyaan yang krusial bagi para investor dan ekonomi. Perusahaan-perusahaan yang berpengaruh dan instrumen utang pada portfolio PE sangat rentan dan sangat bergantung pada apakah manajer-manajer dapat mengikuti investasi ini. Sementara itu mereka telah mengumpulkan $1.6trn pada cadangan kas yang dipelihara yang dapat sebarkan pada penawaran yang baru. Nasib toko-toko PE bergantung pada apakah serangan pada investasi mereka yang sudah ada cukup berbahaya untuk memusnahkan kemungkinan keuntungan dari membuat kesepakatan yang diberikan oleh krisis.

Mulai dari kemungkinan kerugian. Pada quarter pertama di tahun 2020 empat perusahaan-perusahaan besar PE yang terdaftar, Apollo, Blackstone, Carlyle, dan KKR, telah melaporkan berkas kerugian dalam portfolio mereka $90 miliar. Hal tersebut terdengar besar, tetapi hanya 7% dari aset-aset mereka yang dikelola, mencerminkan kemampuan mereka untuk mengontrol bagaimana menjaga aset-aset yang dijaga sendiri dinilai, dan, mungkin kecerdasan investasi-investasi mereka. Setelah ketakutan awal, pemegang saham perusahaan-perusahaan PE menyimpulkan bahwa prospeknya cukup cemerlang.

 

Apakah mereka benar? Banyak manajer PE telah membuat pengembalian dengan menumpuk utang pada perusahaan-perusahaan yang mereka beli. Beberapa tahun dengan segera setelah krisis terakhir, sebagian besar transaksi pembelian dilakukan dengan utang yang nilainya tidak lebih dari enam kali laba operasi bruto. Pada 2019, menurut Bain & Company, sebuah konsultasi, tiga perempat dari penawaran telah dipengaruhi enam kali. Hal tersebut akan memberi kesan bahwa perusahaan-perusahaan yang dikelola PE rentan. Lebih dari setengah 18 perusahaan junk-rated yang tidak melunasi utang dalam kuartal pertama tahun ini dimiliki oleh PE, menurut Moody’s, agensi pemeringkat. Ini diharapkan seluruh tingkat standar perusahaan-perusahaan junk-rated menjadi 14% pada 2021.

Selama dekade terakhir pinjaman PE bergeser dari yang lemah, bank-bank yang terganggu mengalihkan ke perusahaan-perusahaan spesialis kredit swasta. Hal ini mungkin lebih sulit menerima potongan utang mereka untuk mempertahankan bisnis yang dijalani. Dan membuat segalanya lebih sulit lagi, sebagian besar manajer-manajer PE mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang mereka miliki tidak memenuhi syarat untuk, atau tidak ingin mengetuk, skema-skema bisnis bail-out pemerintah Amerika, program perlindungan paycheck, dan program pinjaman Main Street.

Meski begitu, beberapa faktor lain mungkin telah berubah untuk bekerja dalam mendukung PE. Banyak utang telah dikumpulkan untuk PE deals telah menjadi “covernant-light”, yang berarti bahwa perusahaan-perusahaan dapat menanggung kemerosotan besar dalam laba tanpa memicu penalty dari pemberi pinjaman mereka. Sejak krisis tahun 2007-2009 banyak manajer PE juga menyiapkan kekuatan kredit—untuk empat perusahaan besar, sekarang ini terhitung yang ketiga dari aset-aset mereka. Mereka dapat memberi manajer-manajer lebih banyak keahlian in-house dan mekanisme internal untuk meningkatkan utang, membuatnya menjadi lebih mudah untuk restruktur utang-utang dari portfolio perusahaan yang rapuh pada ketentuan yang menguntungkan.

Kejanggalan dari resesi dapat berarti manajer-manajer PE tidak mau menarik steker, karena aktivitas kemungkinan akan dilanjutkan setelah penutupan “Ada celah yang bermasalah”, ujar March Lipschiltz, salah satu pendiri Owl Rock, dana kredit swasta. “Kami tidak tahu seberapa dalam atau seberapa luas ini, tapi dana perlu mencari jembatan penghubung.” Dan jika perusahaan-perusahaan yang dikelola PE tidak dapat lebih meningkatkan utang, default atau restruktur pinjaman mereka, opsi yang tersisa adalah “equity cure”: toko-toko PE membayar uang tunai untuk menjaga perusahaan mereka tetap bertahan. Sudah sekitar 70% bos-bos PE yang disurvei oleh EY mengatakan mereka akan butuh disuntik ekuitas baru ke portfolio perusahaan-perusahaan mereka.

Cara penyusunan dana berarti bahwa manajer-manajer tidak dapat menyebar kas cadangan mereka telah mengumpulkan untuk dana baru ke dalam perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh perusahaan yang lebih tua. Tetapi sebagian besar dana yang lebih lama memang memiliki cadangan yang besar. Michael Chae, kepala keuangan Blackstone, mengatakan bahwa sekitar $30 miliar dari $152 miliar kas cadangan disisihkan untuk mereka. “Kami memiliki cadangan-cadangan yang siap untuk membantu perusahaan-perusahaan dalam keadaan defensive dan juga melakukan penyerangan ketika peluang muncul. Dana juga mengumpulkan modal dengan cara lain.  Biasanya, dana PE mengembalikan uang tunai kepada para investornya satu kali setelah menjual sahamnya di perusahaan—tetapi jika masa investasi masih berlangsung, dana tersebut dapat diminta kembali. Menurut badan industri untuk para investor PE, jumlah panggilan untuk “perputaran modal” telah meningkat.

Membayar investasi yang ada akan menarik Kembali ke toko-toko PE. Masih tetap dilihat peluang-peluang laba pembelian dapat memperbaikinya. Sebagian besar manajer PE berharap untuk menggunakan kekuatan kredit yang baru diperluas untuk meraup ledakan pinjaman dan membatasi dengan harga yang jatuh—Leon Black, pendiri Apollo, telah mengatakan peluang itu “besar”. Tetapi jumlah pembelian tradisional pada bulan Maret turun secara tajam, dan hanya beberapa perusahaan yang melakukan pembelian. Selama bertahun-tahun manajer-manajer PE telah membual tentang timbunan kas cadangan, yang mana, jika dihabiskan dalam penurunan, mungkin menghasilkan pengembalian yang terlalu besar. Sekarang saatnya untuk menyerang.

 

Sumber: economist.com

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda