Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Banyak Dampak dari Virus Korona

Banyak Dampak dari Virus Korona. Pasar global bergoncang karena novel coronavirus terus menyebar di seluruh dunia dan jangkauan dampaknya terhadap ekonomi, geopolitik dan sosial mulai terasa. Wabah yang terjadi di Wuhan, Tiongkok dan yang pertama kali dipublikasikan pada akhir tahun 2019, telah menyebar ke lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Saat ini tampak ada empat tempat episenter regional; Tiongkok, Korea Selatan, Iran dan Italia, dengan kasus-kasus baru tumbuh pada tingkat eksponensial.

Pada awalnya pasar tampak mengabaikan dampak virus ini, tetapi sekarang kemerosotan ekonomi turut menular dengan cepat – bahkan perkiraan paling konservatif dari kemungkinan kemunduran ekonomi menjadi cukup serius. Virus ini tidak hanya menginfeksi lebih banyak orang dibandingkan SARS dan MERS jika digabungkan, tetapi dampak ekonomi sejauh ini juga lebih besar.

Baca Juga : Inilah yang Terjadi Ketika Pasar Saham Tutup karena COVID-19!

Menurut Forum Ekonomi Dunia, gabungan wabah SARS 2003 dan MERS 2015 menelan biaya ekonomi global sekitar $58,5 miliar. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, COVID-19 menelan biaya ekonomi global sekitar $50 miliar hanya dalam ekspor pada bulan Februari. Perkiraan Bloomberg melihat kerusakan kumulatif terhadap seluruh ekonomi global sekitar $2,7 triliun.

Tiongkok selaku Episentrum

Tiongkok tetap menjadi jantung dari krisis ini. Dari sana lah virus ini berasal dan telah mengalami infeksi, pemulihan dan kematian terbanyak. Tiongkok juga merupakan kiblat bagi dunia menyangkut apa yang harus dan tidak boleh dilakukan menyangkut penyebaran virus korona.

Selain itu Tiongkok terhubung erat dengan ekonomi global dan sangat bertanggung jawab untuk mendorong banyak bidang utama lainnya. Tiongkok berada dalam situasi yang sangat berbeda hari ini dibandingkan pada tahun 2003 selama wabah SARS terjadi. Saat itu berada pada posisi belasan untuk perdagangan global, sekarang berada pada posisi ketujuh.

Dua puluh tahun yang lalu, kelas menengah Tiongkok hampir tidak terdaftar sebagai pendorong permintaan global. Pada tahun 2000 jumlah urban Tiongkok yang berpenghasilan antara $9.000-$34.000 per tahun adalah sekitar 4%. Pada tahun 2012 angka ini meningkat 68%. Jadi, Tiongkok tidak hanya merupakan pusat manufaktur untuk seluruh planet ini tetapi juga pasar besar untuk barang-barang Western. Penjualan mobil di Tiongkok turun hingga 80% pada bulan Februari, hanya untuk mengambil satu metrik penting dari permintaan konsumen.

Barang Setengah Jadi

Bulan lalu aktifitas manufaktur Tiongkok turun ke posisi terendah sepanjang masa. PMI manufaktur resminya turun dari 50 pada bulan Januari menjadi 37,5 pada bulan Februari. Penurunan produksi Tiongkok yang tiba-tiba ini pasti mempengaruhi negara-negara tempat Tiongkok mengimpor dan mengekspor barang setengah jadi.

Barang setengah jadi adalah barang yang digunakan dalam produksi produk jadi lainnya dan dapat berkisar dari komoditas keras dan lunak seperti logam dan kacang kedelai, hingga bahan pembuatan plastik dan dan bahan farmasi aktif (API) untuk produksi obat, semua bahan pembuatan mesin mobil dan layar LED.

Menurut World Bank, Tiongkok mengimpor barang setengah jadi terbesarnya dari Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, dan negara Asia “lainnya”. Selain itu, mereka mengekspor volime barang setengah jadi terbesarnya ke Amerika Serikat, Vietnam, Korea Selatan dan India. Virus korona telah mempengaruhi hubungan perdagangan yang saling terkait erat ini dan hampir pasti memiliki pengaruh yang luar pada seluruh rantai pasokan dan pasar akhir dari sejumlah besar barang jadi.

Korea Selatan yang juga sangat terpukul oleh virus ini sangat bergantung pada ekspor barang setengah jadi ke negara-negara di seluruh dunia. 90% ekspor Korea Selatan meliputi barang setengah jadi daripada barang jadi. India juga sangat bergantung pada barang setengah jadi dari Tiongkok. Hubungan perdagangan antara kedua negara yang meliputi bahan aktif farmasi, elektronik, tekstil dan kimia bernilai sekitar $30 miliar per tahun.

India adalah produsen obat generik terkemuka di dunia. Gangguan pasokan API dari Tiongkok mendorong pemerintahnya baru-baru ini untuk membatasi ekspor 26 obat-obatan termasuk parasetamol, Vitamin B12, beberapa antibiotik dan progesteron.

Kisah Minyak Memburuk

Umumnya virus korona diduga akan menyebabkan guncangan besar untuk pasar minyak global. Pada akhir bulan Februari, spekulasi awal ini memberi jalan bagi bukti foto yang disediakan oleh NASA dan satelit pemantau polusi Badan Antariksa Eropa. Gambar-gambar yang dirilis tersebut menunjukkan kepadatan nitrogen dioksida di Tiongkok turun antara 10-30%.

Volatilitas harga minyak naik tajam di minggu yang sama. Indeks volatilitas minyak mentah (OVX) CBOE melonjak dari sekitar 32 pada 20 Februari menjadi di bawah 52 pada 28 Februari. Tiongkok adalah importer minyak terbesar di dunia dengan banyak pabrik yang berhenti beroperasi serta banyak gambar jalanan yang sepi dan kosong bermunculan, hanya masalah waktu sebelum negara yang haus akan minyak ini mempengaruhi harga. Minggu lalu Morgan Stanley (NYSE:MS) memperbarui prakiraan minyak tahun 2020, memprediksi pertumbuhan permintaan minyak Tiongkok untuk tahun ini “mendekati nol”.

Pada awal Maret, anggota OPEC+ bertemu untuk mencoba dan memotong produksi lebih lanjut hingga 1,5 juta barel per hari dengan tujuan mencoba dan menangkal dampak buruk virus terhadap permintaan global. Rusia mendorong kembali perundingan ini dengan menyatakan bahwa pihaknya bersedia untuk melanjutkan pemotongan yang telah disepakati selama tiga bulan berikutnya tetapi tidak akan bersedia untuk memotong lebih jauh.

Selama akhir minggu lalu, Arab Saudi tampak memulai perang harga, setelah memangkas harga jual resminya untuk bulan April sebesar $6-8 per barel. Pasar minyak berada dalam mode panik sejak mereka buka pagi ini. West Texas Intermediate berada di tengah jatuhnya harga terbesar sejak Perang Teluk pertama pada tahun 1991, setelah turun sekitar 28% menjadi $29,80 saat penulisan. Brent Crude juga terpukul telak – turun dari penutupannya $45,50 pada hari Jum’at dan sekarang ditrading pada $33,30.

Kesimpulan

Pandemi yang kita alami saat ini menyebabkan tekanan besar pada semua bidang pemerintahan. Para pemimpin terperangkap di antara batu dan tempat sulit yaitu antara menghentikan segala aktifitas atau membiarkan virus menyebar. Menghentikan semuanya akan menyebabkan kerapurah ekonomi global yang parah dan hubungan terhenti. Membiarkan bisnis seperti biasa akan mempercepat mobilitas masyarakat, yang kemudian akan mempersulit layanan kesehatan dan akhirnya menyebabkan krisis ekonomi yang pada awalnya dihindari. Untuk kedua skenario tersebut, anda memiliki peluang untuk sengsara. Tidak ada pemimpin yang ingin berada dalam posisi tersebut.

Kami sekarang telah melihat penurunan bersejarah di pasar saham dan energi dalam kurun waktu beberapa minggu. Ini merupakan koreksi paling baik untuk dikatakan tapi kita bisa menyaksikan awal yang lebih buruk lagi. Sering dikatakan bahwa volatilitas adalah apa yang dicari oleh para trader. Namun, peningkatan masif volatilitas baik di pasar saham dan minyak menjadikan lingkungan trading sangat berisiko. Pembeli harus berhati-hati.

Kami juga melihat tanda awal negara-negara mobilitas untuk melindungi kepentingan terbaik mereka sendiri. Pembatasan ekspor farmasi India adalah contoh sempurna untuk kasus ini. Demi melindungi penduduknya sendiri dan tidak tahu kapan pasokan API dari Tiongkok akan dilanjutkan, memungkinkan mereka untuk tidak mengirim obat-obatan yang sangat dibutuhkan ke luar negeri.

Baca Juga : CARA MENGHASILKAN UANG DARI FOREX SELAMA COVID-19

Peristiwa terbaru antara Saudi dan Rusia adalah contoh lain dan akan berpotensi memiliki konsekuensi besar yang tidak terbatas untuk kedua negara tersebut. Seperti dimulainya perlombaan menuju ke bawah. Hal ini tentu saja akan merugikan banyak bidang dari industri perminyakan global tetapi juga ada kemungkinan dampak geopolitik yang jauh lebih besar. Bisa juga memecah minyak serpih AS. Sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan minyak serpih AS kelebihan leverage dan tidak mampu mempertahankan profitabilitas dengan harga di bawah $50 per barel. Kami dapat melihat akhir dari periode swasembada energi Amerika baru-baru ini yang merupakan masalah terakhir untuk dibicarakan. Level harga ini mungkin juga dapat mendatangkan malapetaka pada rencana terbaik dari industri energi hijau karena bahan bakar fosil cenderung tidak dapat bersaing dengan energi alternatif terbarukan dalam waktu dekat.

Seperti yang anda lihat, interkoneksi dan kemungkinan implikasi tampak tidak ada habisnya. Baru-baru ini dilaporkan bahwa limit turun “pemutus sirkuit” akan mulai berlaku hari ini untuk mencegah ekuitas hancur lebih jauh saat pembukaannya. Satu hal yang pasti adalah bahwa hampir semua kepastian baru saja meninggalkan sarang.

Sumber : investing.com

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda