Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Perang Dagang AS-Tiongkok Menyebabkan Bear Market

Perang Dagang AS-Tiongkok Menyebabkan Bear Market
Perang Dagang AS-Tiongkok Menyebabkan Bear Market

Sementara perekonomian AS terus tumbuh dan bull market terjadi di saham, para investor tampaknya meremehkan dampak negatif yang dapat disebabkan oleh perang dagang antara AS-Tiongkok. Dan ini mungkin merupakan kesalahan yang besar, menurut analis FactSet Research Systems. “Dalam kasus ketegangan perdagangan yang meningkat antara AS dan Tiongkok, dan pasar keuangan masih tampak mengindahkan dampak global dari perang dagang, analisis kami menunjukkan bahwa jika pasar mulai menunjukkan reaksinya, dampaknya akan meluas,” tulis Ian Hissey, wakil presiden grup analisis portofolio FactSet, dalam sebuah laporan yang dikutip oleh CNBC. Dalam skenario terburuk FactSet, pertumbuhan ekonomi dan harga saham akan merosot di seluruh dunia, dengan saham AS mengalami penurunan bear market hampir 22%.

Pada awalnya, harga saham melonjak dalam perdagangan harian pada hari Rabu silam. Suatu saluran berita mengabarkan bahwa AS telah mengajak Tiongkok untuk melakukan pembicaraan mengenai perdagangan baru sebelum pemerintahan administratif Trump memberlakukan tarif baru pada barang-barang Tiongkok. Presiden Trump telah bersumpah untuk menghancurkan apa yang dilihatnya sebagai hambatan perdagangan Tiongkok yang tidak adil. Kedua belah pihak tetap berseteru pada isu-isu tertentu.

Saham-saham Mengindahkan Dampak Dari Perang Dagang

Indeks Kenaikan YTD
S&P 500 Index (SPX) 8.0%
Dow Jones Industrial Average (DJIA) 5.1%
Nasdaq Composite Index (IXIC) 17.1%

Sumber: Yahoo Finance; kenaikan dicatat berdasarkan pembukaan pada tanggal 12 September

Baca juga : Pengaruh Perang Dagang Untuk Anda

Analisis oleh UBS Group menunjukkan bahwa perang dagang yang berkembang telah mengurangi perolehan untuk S&P 500 sekitar 3 poin persentase, menurut laporan Bloomberg. Dampaknya terhadap indeks saham asing bahkan lebih terasa, menurut UBS, dan diperkirakan bahwa ketegangan perdagangan telah menurunkan sekitar 11% Shanghai Composite Index dan sekitar 8% Indeks Stoxx 600 di Eropa.

Pertumbuhan Ekonomi dan Valuasi Saham Lebih Rendah

“Tarif dagang telah melukai perekonomian kedua mitra dagang dengan menciptakan inefisiensi dan menurunkan pertumbuhan ekonomi,” tulis FactSet’s Hissey, dalam CNBC, menambahkan, “Hal ini akan berdampak negatif pada penilaian pasar ekuitas.” FactSet mengembangkan tiga skenario: kasus dasar dengan tarif dan pembatasan perdagangan yang meningkat secara bertahap antara AS dan Tiongkok; sebuah kasus optimis di mana kedua negara tersebut mencapai kesepakatan yang menghentikan konflik lebih lanjut, dan meninggalkan tarif yang dikenakan baru-baru ini; dan kasus pesimis di mana tarif dan ketegangan akan semakin meningkat. Bahkan apabila kasus optimis terjadi, saham AS tetap akan menurun hingga hampir 11%, sementara saham di seluruh dunia mengalami penurunan lebih dari 8%.

“Terbang” Menuju Kualitas

“Pada gilirannya, penurunan dramatis dalam penilaian ekuitas mungkin akan menciptakan penerbangan menuju aset yang berkualitas,” Hissey melanjutkan dalam laporannya, menurut CNBC. Secara khusus, FactSet mengantisipasi bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi dan harga saham yang dipicu oleh berlanjutnya pembatasan perdagangan, bahkan dalam kasus optimis yang mewakili kelanjutan status quo, akan mendorong investor untuk membeli obligasi. Harga obligasi rata-rata di seluruh dunia akan naik 3,6% dalam kasus optimis, naik sebesar 5,3% dalam kasus dasar, dan naik sebesar 6,9% dalam kasus pesimis.

Baca juga: Pasar Saham Jauh dari Catatan Bearish

Namun, negara-negara yang mata uangnya cenderung mengikuti dolar AS diproyeksikan mengalami penurunan harga obligasi, menurut analisis FactSet, sementara keuntungan pasar obligasi terbesar umumnya akan berada di negara-negara yang mata uangnya memiliki ikatan paling longgar terhadap dolar. Jepang diproyeksikan akan menikmati pasar saham dan pasar obligasi di bawah ketiga skenario tersebut.

Konsekuensi Terbatas

Pandangan sebaliknya ditawarkan oleh Andrew Kenningham, kepala ekonom global Capital Economics, berdasarkan laporan MarketWatch. Meskipun mengakui bahwa industri tertentu dirugikan oleh perang perdagangan antara AS-Tiongkok, ia tetap yakin bahwa dampak ekonomi agregat di kedua negara akan relatif terbatas. Kenningham mencatat bahwa AS dan Tiongkok adalah negara dengan “perekonomian yang hampir tertutup”, dengan ekspor mewakili sekitar 20% dari PDB China pada tahun 2017 dan lebih dari 10% PDB AS.

Sumber: investopedia.com

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda