Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Dolar dan Obligasi Bertahan, Sterling dan Saham Kalah

Dolar dan Obligasi Bertahan, Sterling dan Saham Kalah
Dolar dan Obligasi Bertahan, Sterling dan Saham Kalah

Dolar dan Obligasi Bertahan, Sterling dan Saham Kalah. Ketegangan perdagangan yang kembali muncul, kekhawatiran atas prospek Amerika dan meningkatnya risiko Brexit paksa di Inggris mengurangi selera pasar terhadap saham pada hari Rabu. Sementara itu minat terhadap dolar dan obligasi pemerintah masih terjaga.

Presiden AS Donald Trump kembali menebar ancaman untuk memajaki barang-barang Tiongkok senilai $ 325 miliar di tengah kegelisahan dalam menanti kedua pihak untuk melanjutkan negosiasi. Tetapi Amerika Serikat juga bisa menghadapi sanksi China setelah keputusan World Trade Organization pada hari Selasa.

Wall Street yang melonjak ke rekor tertinggi baru-baru ini akibat sinyal penurunan suku bunga Federal Reserve, telah mengalami ketegangan minggu ini setelah bank-bank besar yakni Citi, JPMorgan dan Wells Fargo melaporkan pendapatan kuartalan. Laporan menunjukkan penurunan margin net interest, sebuah tanda rendahnya suku bunga menyentuh garis bawah.

Bank of America, Bank of New York Mellon, Netflix, IBM, eBay adalah beberapa perusahaan yang selanjutnya akan melaporkan pendapatannya. Investor akan mengawasi prospek keuntungan.

“Pasar terlalu terbebani. Antisipasi memang disiapkan untuk banyaknya suntikan likuiditas dan penurunan suku bunga namun tidak untuk pendapatan perusahaan yang mengecewakan, “kata Francois Savary, kepala investasi di perusahaan wealth manager Swiss, Prime Partners.

“Kekecewaan terhadap jumlah laba per saham akan mendorong lebih banyak konsolidasi di pasar.”

Baca juga: Rally Obligasi Menyebabkan Dolar Melemah

Para investor khawatir bank-bank sentral akan kesulitan menyelamatkan ekonomi dunia di bawah tekanan dari perang dagang yang telah berlangsung selama setahun ini. Sinyal terbaru datang dari Singapura yang ekspornya turun tajam dalam enam tahun terakhir pada bulan Juni.

Ekuitas berjangka menunjukkan sedikit penguatan pada saat pembukaan di Wall Street sementara indeks ekuitas global MSCI bertahan sedikit di bawah level tertinggi 10-hari terakhir.

Indeks MSCI untuk saham-saham Asia selain Jepang turun seperempat persen, sementara indeks gabungan Eropa dibuka mendatar dan cenderung melemah.

Siklus pemotongan suku bunga Fed akan semakin menekan margin bank-bank AS. Pasar uang sudah memberi penilaian pada 100% kemungkinan untuk tiga kali pemotongan suku bunga dengan masing-masing 25 basis poin hingga bulan Maret mendatang, sementara beberapa bank seperti Barclays memperkirakan tiga kali pemotongan akan terjadi hingga akhir tahun.

Taruhan tersebut belum bergerak bahkan setelah data penjualan ritel AS yang secara mengejutkan dinilai kuat pada hari Selasa, data ketenagakerjaan Juni yang kuat dan kenaikan terbesar di manufaktur New York dalam lebih dari dua tahun. Bahkan, Presiden Fed Chicago Charles Evans mensinyalkan pelonggaran 50 basis poin bulan ini.

Savary mengatakan mereka yang mengharapkan tiga kali penurunan suku bunga tahun ini bisa kecewa karena besarnya pelonggaran akan “setara dengan resesi.”

Tetapi Michelle Girard, kepala ekonom AS di NatWest Markets mengatakan data domestik tidak akan menghalangi Fed.

Baca juga: Dolar Australia Berisiko Seiring dengan Peningkatan Obligasi Korporasi Tiongkok

“The Fed tahu konsumen AS cukup kuat. Pembuat kebijakan khawatir tentang risiko buruk terkait pertumbuhan ekonomi global dan manufaktur/ investasi bisnis yang lemah, itulah sebabnya mereka percaya pemotongan suku bunga akan sesuai.”

Hal-hal di atas ditambah ketidakpastian perdagangan dan pasar ekuitas yang melunak menahan obligasi. Yield Treasury AS yang naik setelah data ritel, kini beringsut lebih rendah lagi. Aset ‘aman’ lainnya yakni obligasi Jerman juga mengalami penurunan imbal hasil.

Sterling Terpukul

Ekspektasi terhadap The Fed tetap tidak merusak dolar. USD bertengger di sekitar level tertinggi dalam satu minggu terhadap sejumlah mata uang setelah lonjakan setengah persen di hari sebelumnya.

Greenback cenderung mendapat keuntungan dari kegelisahan perang dagang namun juga didukung oleh suku bunga yang lebih tinggi daripada sebagian besar mata uang utama lainnya. Mata uang ini juga mendapat dorongan dari kekhawatiran seputar sterling yang telah jatuh ke posisi terendah dalam 27-bulan di tengah kekhawatiran Inggris akan keluar paksa dari Uni Eropa tanpa kesepakatan perdagangan untuk melunakkan tekanan.

Pound jatuh lebih jauh di bawah $ 1,24, mengakumulasikan kerugian bulan ini menjadi hampir 2,4%. Mata uang ini telah jatuh 8% dari puncaknya di bulan Maret pada $ 1,3383.

Euro yang kehilangan 0,4% pada hari Selasa tetap berada di bawah tekanan setelah data sentimen bisnis yang lemah meningkatkan harapan Bank Sentral Eropa akan memotong suku bunga dua kali tahun ini dari level minus 0,4% saat ini.

Kenaikan dolar menodai emas. Logam mulia terdorong 0,2% lebih rendah ke $ 1.403 per ounce sementara harga minyak stabil setelah jatuh lebih dari 3% sebelumnya.

Sumber: Reuters