Aliran Besar Dana Masuk ke Indonesia dan India untuk Menghindari Kerugian

Aliran Besar Dana Masuk ke Indonesia dan India untuk Menghindari Kerugian

Aliran Besar Dana Masuk ke Indonesia dan India untuk Menghindari Kerugian. Abaikan perang dagang. Menurut para manajer keuangan, pemotongan suku bunga AS yang sangat besar ditetapkan untuk menggeser berita-berita utama tentang kenaikan tarif agar mendorong pertumbuhan obligasi atau surat utang Asia.

Ketika para trader menanti KTT G-20 minggu ini, pengelola investasi global melihat lebih jauh dan fokus pada pelonggaran yang diharapkan dalam kebijakan Federal Reserve. Para manajer portofolio beralasan bahwa bank-bank sentral regional kemungkinan akan mengikuti jejak The Fed, dan ini akan memicu permintaan terhadap obligasi Asia.

“Kabar baiknya adalah negara-negara pemberi imbal hasil tinggi – Filipina, India, Indonesia – memiliki bank sentral yang menaikkan suku bunganya secara signifikan selama 18 bulan terakhir karena The Fed memperketat kebijakan,” kata Mark Baker, manajer investasi surat utang pada pasar negara berkembang di Aberdeen Standard Investments Ltd. di Hong Kong. “Wajar untuk melihat pasar-pasar ini sebagai tempat pertama untuk membalikkan beberapa pengetatan itu.”

Setelah satu tahun didominasi oleh haven bids, asset-aset berisiko kini siap untuk memulai hidup baru berkat pernyataan The Fed bahwa suku bunga mungkin memang perlu jatuh untuk menopang pertumbuhan. Aset finansial regional seperti surat utang Indonesia dan India yang menawarkan imbal hasil lebih dari tiga kali lipat dari obligasi US (US Treasuries), cukup menonjol di saat $13 triliun obligasi global memberi imbal hasil yang negatif.

Aliran Besar Dana Masuk ke Indonesia dan India untuk Menghindari Kerugian

Obligasi Rupiah yang telah menerima lebih dari $6 miliar aliran masuk tahun ini adalah pilihan utama para pengelola investasi global setelah Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan minggu lalu siap untuk menurunkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Dalam hal ini JPMorgan Asset Management, Aberdeen Standard Investments, dan Salter Brothers Asset Management Pty. adalah beberapa di antaranya.

Baca juga: Pembeli Mendominasi Menjelang Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia

Bagi hasil 10-tahunan obligasi rupiah adalah yang tertinggi di antara pasar utang utama Asia yang sedang berkembang, bahkan setelah turun hampir ke level terendah tahunan sebesar 7,39% minggu lalu. BI akan menurunkan suku bunga acuannya sebesar seperempat poin persentase menjadi 5,75% pada akhir tahun, setelah enam kali kenaikan pada 2018, menurut perkiraan median oleh para analis dalam survei Bloomberg.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pada hari Selasa lalu bahwa bank sentral “akan menemukan waktu yang tepat” untuk menyesuaikan kebijakan di tengah inflasi yang rendah dan stabil, dengan ruang yang cukup untuk bermanuver pada paruh kedua tahun ini. Nomura Holdings Inc. memperkirakan BI akan memberikan penurunan 25 basis poin pada tinjauan berikutnya, serta pelonggaran lebih lanjut sedang dalam proses.

‘Yield Desert’

“Pilihan utama kami untuk suku bunga lokal di Asia sejauh ini selalu jatuh pada Indonesia karena kami melihat ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan lebih dari yang diharapkan,” kata Abbas Ameli-Renani, manajer portofolio untuk obligasi EM dan mata uang di Amundi Asset Management di London. Kebijakan moneter yang lebih mudah diadopsi oleh bank sentral utama akan “mendorong arus masuk lebih jauh ke dalam utang EM karena investor semakin melihat EM sebagai oase di tengah keringnya padang pasir imbal hasil (‘yield desert’ – Red.),” katanya.

Meski demikian, Amundi memperingatkan bahwa perkembangan perang dagang AS-China akan sangat penting bagi prospek mata uang yang baru berkembang (emerging-currencies), dengan potensi keuntungan yang mungkin akan terpotong jika kesepakatan terbukti sulit dipahami dalam jangka pendek.

Demikian pula menurut PineBridge Investments yang memperingatkan bahwa mata uang Asia mungkin menghadapi peningkatan volatilitas karena perubahan dalam Yuan Tiongkok, dan hal ini dapat menimbulkan risiko pada obligasi regional Asia.

“Bank-bank sentral Asia yang cukup selektif mungkin perlu memangkas suku bunga untuk membantu mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Arthur Lau, kepala fixed-income PineBridge wilayah Asia non-Jepang. “Hal ini juga dapat menambah tekanan pada mata uang masing-masing negara.”

Aliran Besar Dana Masuk ke Indonesia dan India untuk Menghindari Kerugian

Obligasi India juga menarik di tengah spekulasi bahwa bank sentral akan menurunkan suku bunga keempat kalinya tahun ini, setelah akhir-akhir ini bergeser ke arah kebijakan yang akomodatif. Bagi hasil 10-tahunan turun menjadi 6,73% minggu lalu, terendah sejak 2017, karena investor luar negeri membeli lebih dari $ 1 miliar surat utang negara bulan ini.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi India Tidak Berpengaruh pada Rupee

Obligasi Rupee menarik karena negara ini “bukan aktor utama” dalam perang dagang, kata Aberdeen Standard’s Baker. Ia menambahkan bahwa para manajer keuangan mengalihkan perhatian dari surat utang pemerintah Filipina ke Indonesia dan India.

Dengan harga kontrak berjangka Fed (fund futures) ditetapkan dengan 100% peluang penurunan suku bunga AS bulan depan dan Bank Sentral Eropa mengisyaratkan akan melepaskan lebih banyak stimulus, pengelola investasi global akan bertaruh pada obligasi Asia yang sedang berkembang.

“Semua ini tentang pengambilan risiko, setidaknya dalam jangka pendek,” kata George Boubouras, direktur di Salter Brothers Asset Management di Melbourne. “Tidak masalah jika dalam jangka pendek perang dagang sedang berlangsung. Ketika The Fed memotong suku bunga, hal itu hanya akan menambah aset berisiko – para investor perlu mengambil keuntungan dari hal itu selagi mereka bisa. ”

Ini adalah opini yang digaungkan oleh JPMorgan Asset, yang mengharapkan ekonomi Asia Tenggara berhasil menavigasi risiko dari perang dagang. Dan jika efek dari perlambatan China meluas ke wilayah tersebut, bank sentral akan “lebih rentan” untuk memotong suku bunga yang akan mendukung harga obligasi, kata Tai Hui, kepala strategi pasar di JPMorgan Asset di Hong Kong.

Sumber: Bloomberg

Muhamad Burhanudin :
Disqus Comments Loading...