Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Sejarah Singkat Bear Market AS

Sejarah Singkat Bear Market AS. Pada 11 Maret 2020, Dow Jones Industrial Average (DJIA) memasuki bear market untuk pertama kalinya dalam 11 tahun, jatuh dari tertinggi sepanjang masa yang mendekati 30.000 menuju ke bawah 19.000 hanya dalam beberapa minggu di tengah pandemi virus korona. Keesokan harinya 12 Maret 2020, S&P 500 dan Nasdaq mengikuti. Bear market di ekuitas AS 2020 bisa jadi turun sebagai salah satu bear market paling parah dalam sejarah. Namun hal tersebut tidak akan menjadi yang pertama ataupun yang terakhir.

Baca Juga : S&P 500: Menawarkan Nilai jika Anda Bersabar

POIN PENTING

  • Bear market didefinisikan sebagai periode berkelanjutan dari tren turun harga saham, sering dipicu oleh penurunan 20% tertinggi jangka pendek.
  • Bear market sering disertai dengan resesi ekonomi dan tingkat pengangguran tinggi tetapi bear market juga dapat menjadi peluang beli yang baik disaat harga mengalami tekanan.
  • Beberapa bear market terbesar di masa lalu juga bertepatan dengan Depresi Hebat dan Resesi Hebat.
  • Bear market sejak 11 Maret 2020 disebabkan oleh banyak faktor termasuk penyebaran COVID19.

Ketika Bear Datang

Salah satu bear market mengatakan bahwa pasar berada di wilayah bear ketika rata-rata saham jatuh setidaknya 20% dari tertinggi mereka. Namun 20% merupakan angka arbitrer, sama seperti penurunan 10% sebagai patokan arbitrer untuk koreksi.

Definisi lain dari bear market adalah ketika investor lebih menghindari risiko daripada mencari risiko. Bear market seperti ini dapat bertahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebagaimana investor menghindari spekulasi untuk taruhan yang pasti dan membosankan.

Beberapa indeks pasar saham terkemuka di seluruh dunia mengalami penurunan bear market pada 2018. Pada bulan Desember di AS, indeks kecil Rusell 2000 (RUT) berada di bawah 27,2% di bawah tertinggi sebelumnya. Indeks S&P 500 (SPX) sebagai barometer besar yang banyak diikuti di AS terlambat memasuki wilayah bear market, menghentikan penurunan 19,8% di bawah tertingginya.

Sama halnya dengan harga minyak yang pernah memasuki bear market dari Mei 2014 sampai dengan Februari 2016. Selama periode ini harga minya terus jatuh dan tidak merata hingga mencapai dasarnya.

Bear market dapat terhadi di sektor dan pasar yang paling luas. Cakrawala waktu terpanjang investor biasanya diantara sekarang dan kapan saja mereka perlu untuk melikuidasi investasinya (misal, selama pensiun), dan dalam jangka waktu panjang, bull market naik lebih tinggi dan lebih lama daripada bear market.

Semua Bentuk dan Ukuran Bear

Bear market bisa dalam segala bentuk dan ukuran, menunjukkan variasi signifikan pada kedalaman dan durasi.

Bear market sejak Maret 2020 dimulai karena sejumlah faktor termasuk menyusutnya laba perusahaan dan kemungkinan pasar bull 11 tahun yang panjang sebelumnya. Penyebab langsung bear market merupakan kombinasi dari kekhawatiran berlanjut tentang dampak pandemi COVID19 pada ekonomi dunia dan perang harga yang tidak menguntungkan di pasar minyak antara Arab Saudi dan Rusia yang menyebabkan harga minyak jatuh ke level tak terlihat sejak ledakan harga dotcom bubble pada tahun 2000, 9/11 2001 dan Gulf War kedua.

Antara 1926 dan 2017, terdapat delapan bear market dengan jangka enam bulan hingga 2,8 tahun dengan turunnya S&P 500 dari 83,4% ke 21,8% sebagai yang terparah menurut analis First Trust Advisor berdasarkan data Morningstar Inc. Hubungan antara bear market ini dan resesi tidak sempurna.

Grafik ini dari Invesco menelusuri jejak pasar bull dan bear serta performa S&P 500 selama periode tersebut.

Pada akhir 2019, analis menduga bear market mungkin datang tetapi terbagi menjadi durasi dan tingkat keparahannya. Contohnya, Stephen Suttmeier, kepala strategi teknis ekuitas di Bank of America Merrill Lynch mengatakan Ia percaya akan ada “garden-variety bear market” yang hanya bertahan enam bulan dan tidak akan turun lebih dari 20%. Di sisi lain spektrum, manajer dana lindung nilai dan analis pasar John Hussman memprediksikan kekalahan telak 60%.

Bear Market Tanpa Resesi

Tidak dari delapan bear market yang terdaftar di bawah tidak disertai dengan resesi ekonomi, menuruh FirstTrust. Termasuk kemunduran singkat enam bulan S&P 500 sebesar 21,8% pada akhir 1940 dan 22,3% pada awal 1960. Runtuhnya pasar saham pada tahun 1987 merupakan contoh terbaru dengan penurunan 29,6% selama tiga bulan menurut First Trust.

Kekhawatiran tentang penilaian ekuitas yang berlebih dengan tekanan jual yang diperburuk oleh trading program terkomputerisasi secara luas diakui sebagai pemicu bear market singkat tersebut.

Bear Market Sebelum Resesi

Di tiga bear market lainnya, penurunan pasar saham dimulai sebelum resesi secara resmi berlangsung. Keruntuhan dotcom 2000-2002 juga didorong oleh hilangnya kepercayaan investor pada penilaian saham yang mencapai sejarah baru tertinggi.

Anjloknya S&P 500 44,7% selama 2,1 tahun diselingi oleh resesi singkat ditengahnya. Pasar saham turun 29,3% pada akhir 1960-an dan 42,6% awal 1970an dengan masing-masing berlangsung selama 1,6 dan 1,8 tahun juga dimulai sebelum resesi dan berakhir tepat sebelum kontraksi ekonomi berakhir.

Beberapa Bear Market Paling Parah (Sejauh Ini)

Dua bear market terburuk era ini kurang lebih selaras dengan resesi. Kehancuran Pasar Saham 1929 merupakan peristiwa utama yang memperparah bear market selama 2,8 tahun dan memotong 83,4% nilai S&P 500.

Spekulasi merajalela setelah penilaian bubble dibuat dan Depresi Hebat dimulai, penyebabnya adalah Smoot-Hawley Tariff Act dan keputusan Federal Reserve untuk mengendalikan spekulasi dengan kebijakan moneter ketat yang hanya memperburuk penjualan pasar saham.

Bear market 2007-2009 bertahan selama 1,3 tahun dan membuat S&P 500 turun 50,9%. Ekonomi AS tergelincir ke dalam resesi 2007 disertai dengan pertumbuhan krisis pada hipotek subprime dan meningkatnya jumlah peminjam yang tidak dapat memenuhi kewajiban sesuai jadwal. Hal ini kemudian berubah menjadi krisis keuangan umum pada September 2008 yang membawa lembaga keuangan penting sistemik (SIFIs) di seluruh dunia dalam keadaan bangkrut.

Kehancuran total pada sistem keuangan dan ekonomi global dapat dihindari pada 2008 dengan intervensi bank sentral di seluruh dunia. Suntikan likuiditas besar-besaran ke sistem keuangan, melalui proses yang disebut quantitative easing (QE) atau pelonggaran kuantitatif, menopang perekonomian dunia dan harga aset keuangan seperti saham dengan mendorong suku bunga turun ke rekor terendah.

Baca Juga : Analisa Forex NASDAQ 100 : Membeli di Dips

Intinya

Bear market terbaru merupakan kombinasi krisis kesehatan global, ditambah ketakutan, yang memicu gelombang PHK, penutupan perusahaan dan gangguan keuangan. Tetapi kita akan melewatinya – dan hal ini bukanlah bear market pertama yang telah kita alami. Seperti yang disebutkan di atas, metode untuk mengukur panjang dan besarnya bull dan bear market berbeda untuk setiap analis. Menurut kriteria yang digunakan oleh Yardeni Research misalnya, sudah ada 20 bear market sejak 928. Bear market ini tentu saja juga bukan yang terakhir.

Sumber : investopedia.com

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda