Forex Indonesia, adalah situs yang membahas tentang Broker Forex Terbaik dan terpercaya dan direkomendasikan, dinilai dari perbandingan menyeluruh dari sisi pelayanan yang diberikan serta ulasan para penggunanya. Forex adalah sebuah produk investasi yang melakukan jual-beli valas /mata uang asing dengan memprediksi pergerakan harga valas. Transaksi dilakukan dengan memperhatikan berita dari berbagai Negara dan bagan indikator ekonomi, juga melakukan analisa teknis.


Inikah Akhir dari Siklus Kenaikan Suku Bunga bagi Indonesia?

Inikah Akhir dari Siklus Kenaikan Suku Bunga bagi Indonesia?
Inikah Akhir dari Siklus Kenaikan Suku Bunga bagi Indonesia?

Bank Indonesia, salah satu pendaki tingkat suku bunga terbesar di Asia sepanjang tahun lalu, diperkirakan akan mempertahankan kebijakannya pada hari Kamis mendatang, dengan para analis akan mengurangi seruan untuk peningkatan lebih lanjut pada tahun 2019.

Hasil survey Bloomberg terhadap 26 ekonom menyatakan bahwa semua ekonom memperkirakan Gubernur Perry Warjiyo dan dewannya akan mempertahankan tingkat pembelian kembalinya di angka 6% untuk bulan kedua, setelah mendaki sebanyak enam kali dengan total 175 basis poin sejak Mei lalu.

Bank Indonesia mendapatkan nafas dari Federal Reserve AS yang lebih berhati-hati, mata uang ini rebound dari level terendahnya dalam dua dekade ini dan dari perlambatan ekonomi global. Warjiyo sendiri mengisyaratkan kepada para pembuat kebijakan yang sesaat lagi akah mengakhiri siklus pengetatan, dan mengatakan kepada anggota parlemen bahwa suku bunga acuan hampir mencapai puncaknya pada Rabu ini.

Mohamed Faiz Nagutha, seorang ekonom di Bank of America Merrill Lynch di Singapura, mengatakan dengan “hampir pasti” bahwa ini adalah akhir dari siklus pengetatan Indonesia. Dia tidak lagi melihat kenaikan suku bunga Bank Indonesia pada tahun ini, dan dia juga mengatakan suku bunga ini dapat mulai berkurang pada paruh kedua di tahun 2019 ini.

Baca juga: Bank Indonesia Waspada Mengelola Volatilitas Rupiah

“Kami belum menghitung penurunan suku bunga dan menunggu sinyal lebih lanjut dari pembuat kebijakan tentang tujuan kebijakan ke depannya,” katanya.

Setelah terpukul oleh kemunduran pasar negara berkembang pada tahun lalu, rupiah telah menguat sekitar 3% terhadap dolar pada bulan lalu, sementara investor telah memompa hampir $ 600 juta ke dalam obligasi pemerintah sejak awal Januari.

Rupiah Rebound

Pada tahun lalu, bank sentral mengambil sikap agresif pada kenaikan suku bunga untuk membantu menstabilkan rupiah setelah turun hampir sebesar 6% terhadap dolar dan mencapai level terendahnya selama 20 tahun. Dengan mata uang yang berhasil menguat pada 2019—sebagian karena pasar akan mengurangi taruhan pengetatan Fed dan sikap proaktif BI—pembuat kebijakan dapat mengurangi kenaikan tingkat suku bunga.

Fed Futures

Kunci prospek rupiah adalah Fed. Sejak menjabat pada bulan Mei, Warjiyo telah bersumpah untuk melakukan pre-emptive pada suku bunga saat ia berusaha untuk mengimbangi Fed dan melawan aksi jual pasar-negara berkembang. Sementara pejabat bank sentral AS mengindikasikan bahwa mereka saat ini cenderung untuk tidak terus menaikkan suku bunga mengingat adanya peningkatan risiko global, pembuat kebijakan Indonesia pun dapat mengambil lebih banyak pendekatan dari ‘menunggu dan melihat’.

Baca juga: Kebangkitan Ekonomi Indonesia Menjadi Daya Tarik Para Investor

“Banyak yang telah berubah sejak Desember 2018. Pasar saat ini beranggapan bahwa The Fed telah membalik lembaran baru untuk menunjukkan bahwa mereka akan lebih dovish pada 2019,” kata Nicholas Mapa, seorang ekonom di ING Bank NV di Manila.

Gambaran Domestik

Prospek inflasi tetap jinak untuk saat ini: harga kebutuhan dasar naik sebesar 3,1% pada bulan Desember dari tahun lalu, berada di dalam rentang target bank sentral yaitu antara 2,5% hingga 4,5%.

Namun, defisit akun saat ini yang memperburuk aliran keluar pada tahun lalu tetap menjadi perhatian utama. Sementara bank sentral melihat kesenjangan yang berkurang menjadi 2,5% dari produk domestik bruto negara pada tahun ini, setelah turun dari tahun lalu yaitu sebesar 3%, data yang dikeluarkan pada hari Selasa lalu menunjukkan bahwa Indonesia sudah mencatat rekor defisit perdagangan pada 2018 dengan menggarisbawahi tantangan yang dihadapi oleh para pembuat kebijakan.

Pemilihan presiden mendatang juga tampaknya akan menjadi salah satu faktor yang menyulitkan. Presiden Joko Widodo ingin memacu pertumbuhan ekonomi dan menjaga tekanan terhadap biaya kebutuhan sehari-hari. Ekspansi ekonomi sekitar 5% masih tetap kurang dari target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 7%.

Pada pertemuan tingkat kebijakan terakhir pada bulan Desember lalu, Bank Indonesia mengatakan bahwa ekonomi domestik diperkirakan akan meningkat dari 5% menjadi 5,4% pada tahun ini.a

Sumber: bloomberg.com

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda