Fed Rate Hike 2018 Diyakini Akan Lebih Agresif, Apa Alasannya?

Dalam pertemuan FOMC akhir tahun 2017 silam, sudah diputuskan bahwa proyeksi kenaikan suku bunga untuk tahun 2018 adalah sebanyak 3 kali, mirip seperti yang diterapkan pada tahun 2017. Namun, membaiknya data-data ekonomi di awal tahun 2018 memicu spekulasi baru tentang tuntutan Fed Rate Hike yang lebih agresif dari rencana awal. Sebenarnya, apa saja latar belakang yang mendasari spekulasi tersebut?

Fed Rate Hike 2018

Pertumbuhan Ekonomi Dan Risiko Overheating

Para pejabat Fed kini semakin optimis dengan pertumbuhan ekonomi AS. Notulen rapat FOMC Januari 2018 menyiratkan keyakinan lebih tinggi, dengan beberapa anggota memutuskan untuk mengungkit forecast mereka.

Di atas kertas, ekonomi AS memang tercatat melaju kencang setelah bertahun-tahun melempem. Dalam tiga kuartal terakhir, pertumbuhan terus menguat, diiringi dengan kepercayaan konsumen yang pulih ke level pra-krisis finansial, ekspansi di sektor bisnis, dan perkembangan investasi di laju tercepat sejak 2011.

Para pejabat Fed juga memperhitungkan implementasi pemangkasan pajak senilai $1.5 triliun yang baru saja disahkan Kongres. Menurut mereka, dampak jangka pendek kebijakan tersebut bisa lebih besar dari apa yang selama ini diperkirakan.

Sejak pertemuan Fed di bulan Januari, bukti-bukti penguatan ekonomi terus bermunculan, termasuk kenaikan data upah tertinggi dalam 9 tahun terakhir. Testimoni Jerome Powell dalam penampilan resmi perdananya sebagai Ketua The Fed juga mensinyalkan optimisme. Ia menegaskan bahwa Fed Rate Hike akan mencermati perlunya tindakan lebih agresif dalam pengetatan kebijakan, apabila ekonomi benar-benar melaju pesat.

Jika tidak diimbangi dengan kenaikan suku bunga, pertumbuhan yang tak terkendali memang bisa menjadi bumerang. Ada banyak risiko dari kondisi yang disebut Overheating itu, dan pencegahan terhadap hal inilah yang ditekankan Powell sebagai fokus Fed Rate Hike ke depan.

Hal ini seirama dengan pernyataan Fed di notulen meeting Januari, yang mengungkapkan bahwa “mayoritas anggota FOMC memahami jika outlook ekonomi yang lebih kuat bisa membuat kebijakan pengetatan lebih lanjut layak untuk dipertimbangkan”.

Berikutnya, para investor akan mengawasi rapat FOMC Maret yang berlangsung pada tanggal 20-21, karena akan menjadi momen kenaikan suku bunga pertama di tahun 2018.

Ketenagakerjaan Mendekati Full Employment

Selain pertumbuhan ekonomi, pertimbangan penting dalam kebijakan Fed Rate Hike adalah kesehatan pasar tenaga kerja. Mulai dari Job Openings, data upah, tingkat pengangguran, hingga NFP, semua data tenaga kerja bisa menjadi pemberi sinyal kondisi ketenagakerjaan di AS.

NFP sebagai indikator penting biasanya menjadi salah satu kunci utama dalam pengambilan arah kebijakan Fed. Jika dilihat dalam beberapa periode terakhir, pertumbuhan NFP AS sebenarnya tidak selalu melampaui ekspektasi, karena ada yang justru mengecewakan harapan pasar. Namun demikian, hasil di bawah proyeksi tidak terlalu mempengaruhi pandangan positif para pelaku pasar, karena mereka menganggap hal itu sebagai kondisi musiman yang wajar terjadi.

Seperti yang telah disebutkan di atas, data upah telah mencapai titik tertinggi 9 tahun terakhir, dan mensinyalkan penguatan menjanjikan. Di samping itu, Jobless Claims sudah bertahan di bawah level 300,000 selama lebih dari 150 minggu berturut-turut. Sekedar informasi, 300,000 merupakan batas pengukur kesehatan tenaga kerja AS.

Dengan tingkat pengangguran yang stabil di bawah 5%, kondisi-kondisi di atas dianggap membentuk suatu gambaran positif untuk situasi pasar tenaga kerja Amerika saat ini. Jika laju pertumbuhan berlangsung konsisten, maka bukan tidak mungkin jika Full Employment tercapai tak lama lagi.

Masih Ada Ganjalan

Untuk saat ini, The Fed belum menyatakan penambahan kenaikan suku bunga secara resmi. Di tahun 2019 pun, proyeksi Rate Hike masih sama, yakni sebanyak 2 kali. “The Fed masih menetap pada jalur tiga kali kenaikan, dan neraca akan terus menyempit,” catat Peter Boockvar, Chief Investment Office di Bleakley Advisory Group.

Beberapa anggota FOMC juga masih melihat adanya ketidakpastian yang terkait dengan dampak kebijakan Fed Rate Hike terhadap perekonomian. Mereka mengkhawatirkan sisi lain dari reformasi pajak, yang dinilai bisa berimbas negatif pada peluang investasi di masa mendatang.

“Perusahaan-perusahaan mungkin baru akan menentukan alokasi dana yang tersisa dari keringanan pajak. Mereka bisa menggunakannya untuk investasi, kompensasi pegawai, merger dan akuisisi, return untuk para pemegang saham, atau hal lainnya,” cermat The Fed dalam notulen mereka. Terkait hal ini, banyak analis memperkirakan jika perusahaan-perusahaan bakal menggunakan dana lebih mereka untuk buy back saham masing-masing atau meningkatkan dividen.

Di sisi lain, data upah dianggap belum stabil, sehingga pejabat Fed tidak terlalu optimis dengan proyeksi pertumbuhan yang signifikan. Hal itu karena gaji pegawai bergantung pada produktivitas. Para pemilik usaha di seluruh AS baru-baru ini dilaporkan mengeluh kesulitan mencari pegawai baru; suatu dampak dari tingkat pengangguran rendah yang dalam beberapa periode terakhir pernah menyentuh level terendah 17 tahun.
Baca Juga: Rilis Tenaga Kerja AS Dan Pengaruhnya Terhadap Laju Kenaikan Fed Hike Rate 2018.

Recent Post