Penguatan Yuan China Menggebrak Dominasi Bullish Dolar AS

Berita Forex

Pasar dikejutkan oleh lonjakan Yuan China yang mencatatkan salah satu pergerakan terbesar di sesi trading Kamis (5/1) ini. Spekulator pun ramai-ramai berpindah posisi ke Yuan, sehingga menyebabkan kejatuhan Greenback dan mengacaukan outlook umum untuk investasi global di tahun 2017. Apa yang melatarbelakangi gebrakan Yuan China kali ini? Mengapa USD tak mampu mempertahankan posisinya, padahal sebagian besar pelaku pasar telah memproyeksikan performa kuat mata uang tersebut di tahun 2017? Dirangkum dari berita forex Reuters, berikut ini info lebih lanjut tentang dinamika Yuan dan Greenback yang tiba-tiba berubah arah.

yuan menggebrak dolar

Menyerang Sebelum Diserang<
Lompatan Yuan China kali ini disebabkan oleh peningkatan bunga acuan pinjaman Hong Kong. Walaupun tak dikonfirmasi, banyak pihak meyakini jika hal ini sebenarnya merupakan buah dari campur tangan pemerintah. Rumor intervensi di berbagai berita forex telah beredar selama beberapa hari belakangan, karena analis meyakini bila pemerintah China tak akan tinggal diam menyambut inagurasi Donald Trump yang jatuh pada 20 Januari mendatang.

Sudah jadi rahasia umum bila Donald Trump memiliki sentimen negatif terhadap Negeri Tirai Bambu. Jika ia menepati janji-janjinya selama masa kampanye, maka kekuasaan Trump di AS akan berimbas buruk bagi China dan pergerakan Yuan. Itulah mengapa, sumber-sumber di berita forex telah mencatat bahwa pasar sudah mengantisipasi langkah pemerintah China, jika ada upaya intervensi yang ditujukan untuk memperlambat laju penurunan Yuan menjelang momen inagurasi Trump.

Namun ternyata, langkah tersebut berpengaruh lebih besar dari perkiraan. Peningkatan bunga pinjaman Hong Kong (yang dalam berita forex diyakini sebagai salah satu bentuk intervensi pemerintah), mengangkat Yuan ke level 6.8364, atau hampir 3% lebih tinggi dari low hari Selasa (3/1).

“China telah memulai pergerakan besar yang meluluhlantakkan spekulasi jangka pendek. Ini bukanlah ekonomi. China hanya sedang putus asa karena tidak ingin kejadian tahun lalu terulang kembali,” kata Richard Benson, salah satu Pimpinan bidang Manajemen Portofolio di Millenium Global. Maka dari itu, wajarlah jika tindakan China kali ini disebut sebagai aksi “menyerang sebelum diserang”, karena mereka berniat mempertahankan diri dari para investor Greenback saat 20 Januari tiba.

China Bukan Penyebab Satu-satunya
Kemerosotan signifikan yang dialami Dolar AS mungkin sebagian besar berasal dari penguatan Yuan. Akan tetapi, langkah para investor yang melihat kondisi itu sebagai kesempatan profit taking juga turut andil membenamkan Greenback semakin dalam. Pada berita forex terkait, indeks USD dikabarkan melemah ke level rendah 3 minggu, tepatnya di poin 101.86. Padahal, dua hari sebelumnya Greenback sempat kembali menyambangi level tinggi 14 tahun di 103.82.

Dengan prospek kepemimpinan Donald Trump di depan mata, para investor telah megantri untuk mengambil posisi long USD. Mereka yakin jika Trumponomics akan berhasil meningkatkan belanja publik, memacu inflasi, dan mendorong repatriasi dari dana perusahaan-perusahaan yang tersebar di luar negeri.

Namun demikian, sebagaimana tercermin dari laporan berita forex USD, outlook jangka pendek untuk Greenback tampak tak lagi terlalu meyakinkan. Kegagalan Dolar AS dalam mendorong Euro ke level paritas, dan ketidakmampuannya untuk menembus 120 Yen di bulan lalu telah mengendurkan kepercayaan market secara perlahan. Apalagi, belum ada rencana jelas dari kebijakan ekonomi Donald Trump, dan jikapun benar terlaksana, butuh waktu hingga berbulan-bulan sebelum dampaknya terasa.

“Para pemegang posisi bearish telah berdiam diri selama Desember kemarin karena sadar bahwa bullish Dolar AS tengah tak terbendung. Namun mereka terlihat mulai muncul ke permukaan sekarang,” ungkap Richard Benson. Masih di berita forex yang sama, ia dikutip curiga jika USD sebenarnya tak mampu menekan Euro lebih rendah dari level 1.0375.