Laporan Data Tenaga Kerja Memburuk, GBPUSD Terpukul Turun

Berita Forex

Laporan Data Tenaga Kerja Memburuk, GBPUSD Terpukul Turun

Dari Inggris, laporan baru sebutkan bahwa tingkat pengangguran Inggris terdapati melorot ke tingkat terendahnya dalam satu dekade, untuk kuartal ketiga berada di tahun ini. Laporan berasal dari Biro Statistik Inggris (ONS), dimana tingkat pengangguran Inggris berada di tingkat 4,8 persen untuk kuartal tiga dibandingkan dengan kuartal sebelumnya 4,9. Adapun tingkat tersebut lebiht tinggi dari perkiraan para ekonom Wall Street Journal yang mengharapkan tidak ada perubahan.

Data pasar tenaga kerja Inggris secara keseluruhan mencapai tingkat tertingginya 74,5 persen, melalui laporan ONS. Tingginya data tersebut mendapatkan dorongan dari kemunduran pada tingkat pengangguran, upah tenaga kerja meningkat sampai 2,4%, yang sudah bertepatan dengan perkiraan para analis.

Akan tetapi, meskipun data yang ada di headline itu sangat baik, biro statistic pemerintah Inggris masih mempunyai adanya indikasi-indikasi pendingingan ada di ketenagakerjaan Inggris.  Banyaknya klaim tunjangan pengangguran yang naik sampai dengan 9,800 dalam kuartal ketiga tahun ini. Jika dibandingkan dengan tingkat sebelumnya, direvisi naik menjadi 5,600 berubah naik 700 dibandingkan dengan angka sebelum di revisi.

Setelah menanggapi laporan terbaru tersebut, pergerakan dari Sterling yang langsung menurun melawan mata uang Dollar AS, dimana untuk pairing GBPUSD yang berkisar bergerak di 1.2449, dari angka sebelumnya di 1.2479.

Berdasarkankan dari analis FXTM, Lukman Otunug, sterling yang saat ini masih dalam pengaruh Brexit dengan ketidakpastian menjadi baying-bayang pergerakan mata uang tersebut dari sentiment beli untuk Poundsterling. Selain itu, angka inflasi Inggris yang masih di bawah tingkat rendah dari target Bank Sentral Inggris juga menjadi factor yang memberikan tekanan mendasar untuk Poundsterling.

Sedangkan analis berasal dari Commerzbank sebutkan bahwa data ketenagakerjaan terbaru Inggris pada hari ini hanya bertindak menjadi Intermezzo saja. Stering, dalam jangka menengah dan jangka panjang masih di dalam tekanan karena ketidakpastian dari progress keluarnya Inggris atau Brexit.

Sedangkan rivalnya Dollar AS yang berada di atas tingkat tertingginya dalam 11 bulan melawan beberapa mata uang mayor. Ada beberapa data-data baru AS yang memberikan dukungan untuk momentum bullish Dollar AS. Pergerakan dari Indeks Dollar yang masih berada di atas tingkat 100, tertinggi semenjak bulan Desember.

Dollar AS mendapatkan tenaga beru berasal dari laporan retail sales atau penjualan retail Amerika Serikat untuk bulan Oktober yang dimana pada hari Selasa kemarin di laporkan membaik. Adapun imbal hasil obligasi dari pemerintah AS masih terangkat naik dan makin membawa outlook kenaikan suku bunga dari bank sentral As (Federal Reserve) semakin optimis untuk Desember bulan depan ini.

Memantau dari kinerja Dollar AS berada di pairing USDJPY,  yang masih terangkat di kisaran angka 109.06 dan lebih dari itu berada di 109.122. untuk kemarin saja pairing Yen tersebut sudah naik sampai dengan 109.34.

Momentum bullish pada dollar ini  berasal dari data AS terbaru, fokus pasar yang kini masih belum beranjak kepada Donal Trump. Efek dari Donald Trump semenjak awal pekan kemarin masih memberikan dukungan banyak kepada Dollar AS melawan mata uang mayor sedunia, sehingga kini sampai dengan tingkat tertingginya dalam 13 tahun. Semua pasar masih menantikan kebijakan terbaru dari presiden terpilih tersebut.