FED Siap Naikkan Suku Bunga, Dolar Tertinggi Sejak April 2003

Berita Forex

fed-siap-naikkan-suku-bunga-dolar-tertinggi-sejak-april-2003

Indeks Dolar, yang mengukur kekuatan Dolar AS dibanding sekelompok mata uang lainnya, melesat ke level tertingginya sejak awal April 2003, demikian dilaporkan oleh Investing di akhir sesi perdagangan Jumat lalu. Hingga Senin pagi ini (21/11) pun, mata uang cadangan dunia ini masih berada di posisi tinggi. EUR/USD berada di kisaran 1.0588, terendah sejak Desember 2015. GBP/USD masih di kisaran 1.23 setelah bulan lalu terperosok hingga nyaris tembus 1.20. USD/JPY pun meroket ke sekitar 111.00, tertinggi sejak April 2016.

Kenaikan Suku Bunga Bisa Dilakukan Segera
Aksi beli Dolar masih dilandasi oleh harapan akan diluncurkannya stimulus fiskal masif di era Presiden Trump yang akan dimulai tahun depan, serta ekspektasi bakal naiknya suku bunga Federal Reserve akhir tahun ini. Laporan-laporan ekonomi Amerika Serikat seperti inflasi, pengangguran, dan pertumbuhan belakangan ini dinilai telah nyaris mencapai target. Akibatnya, nilai Dolar melejit.

Secara khusus, Greenback telah naik 7.3% versus Yen dalam dua pekan terakhir. Ini merupakan laju kenaikan tercepat sejak Januari 1988 dan menjadi salah satu performa dolar terbaik di era modern. Namun demikian, masih belum diketahui bagaimana langkah-langkah konkrit Presiden Trump kelak dalam mewujudkan janji-janji-nya untuk menjalankan pemangkasan pajak, deregulasi, dan stimulus fiskal lainnya, sehingga kenaikan dolar saat ini masih dipandang rawan oleh sejumlah pakar.

Terlepas dari itu, pimpinan Federal Reserve Janet Yellen minggu lalu menyatakan pada sebuah panel di Parlemen AS bahwa kenaikan suku bunga bisa terjadi “relatif segera”. Ia tak mendeskripsikan kapan tepatnya “relatif segera” itu, tetapi banyak pihak memproyeksikan kemungkinan kenaikan suku bunga pada rapat 13-14 Desember mendatang.

Makin Bullish Dibanding Mata Uang Lainnya
Latar belakang Dolar AS yang demikian bertolak belakang dengan ketidakstabilan politik dan ekonomi di negara-negara mayor lainnya. Euro saat ini tengah rawan diguncang oleh sederetan risiko politik, termasuk referendum konstitusi Italia bulan depan yang dianggap sebagai proxy pilihan warganya apakah akan tetap bersatu dengan Uni Eropa atau tidak. Isu perlambatan ekonomi Jepang dan China pun masih menekan mata uang dan saham di kawasan Asia.

Berdasarkan laporan Commitment of Traders yang dipublikasikan oleh CFTC di akhir pekan, posisi spekulatif netto pada Euro dan Pounds di pasar finansial AS masih sangat bearish, meski jumlah posisi short sedikit berkurang dibanding minggu sebelumnya. Posisi netto Euro berada pada -119.2k (sebelumnya -129.3k), sedangkan GBP -80.3k (sebelumnya -89.8k). Di sisi lain, posisi bullish pada Yen makin menyusut. Posisi long netto Yen berkurang dari sebelumnya 32k menjadi 20.7k saja dalam waktu sepekan yang berakhir tanggal 15 November.