Data JOLTS Di Bawah Ekspektasi Gagal Dorong Dolar

Berita Forex

jolts-di-bawah-ekspektasi-gagal-dorong-dolar

Dolar AS terpantau loyo pada hari Selasa (11/1) hingga Rabu ini (12/1), setelah data ekonomi gagal memicu kembali reli bullish-nya. Berita forex fundamental tentang pembukaan lowongan JOLTS, yang diharapkan memberikan kejelasan setelah laporan Nonfarm Payroll akhir pekan lalu cenderung beragam, ternyata mengecewakan. Pasar pun agak mengabaikan sejumlah pidato pejabat FED yang mengirim bias berbeda-beda mengenai prospek kenaikan suku bunga tahun ini.

JOLTS November Di Bawah Ekspektasi
JOLTS bersumber dari survey yang dilakukan oleh US Bureau of Labor Statistics untuk mengukur jumlah lowongan kerja dengan mengumpulkan data dari aktivitas rekrutmen karyawan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat. Untuk bulan November 2016, data JOLTS mengalami peningkatan dari 5.451 juta di bulan sebelumnya ke 5.522 juta. Namun, angka tersebut di bawah forecast yang memperkirakan kenaikan hingga 5.555 juta. Dengan demikian, JOLTS sebenarnya tak jauh berbeda dari NFP Desember yang juga gagal memenuhi ekspektasi.

Data-data ekonomi lain yang dirilis dari negeri Paman Sam sepanjang hari Selasa pun sama mengecewakannya. Indeks Redbook yang merekam pertumbuhan penjualan ritel, melorot 3.1% secara bulanan, setelah naik 1% di bulan sebelumnya. Wholesale Inventory bulan November hanya naik 1% MoM, meski diharapkan naik 0.9% sama seperti periode sebelumnya. Dirilis menjelang publikasi data Penjualan Ritel hari Jumat mendatang, data-data tersebut memberikan sinyal yang kurang memuaskan.

Pasar Abaikan Pidato Pejabat FED
Buruknya data-data tersebut memang tak menjorokkan nilai Dolar AS, tetapi nampak bahwa reli terhenti dan kini pasar tengah menimbang apakah Dolar masih bisa naik lagi. EUR/USD kini masih naik-turun di kisaran 1.05-1.06. GBP/USD masih tertekan, tetapi nampak berupaya menanjak ke 1.2180 dari level rendah dua bulannya. Sedangkan USD/JPY masih ranging di kisaran 115an.

Sejumlah pidato hawkish para pejabat FED sepanjang Selasa, tak diacuhkan pasar. Diantaranya Charles Evans, tokoh yang biasanya dovish, menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tiga kali dalam tahun ini tidaklah mustahil. Keyakinan serupa diekspresikan oleh Patrick Harker, pejabat FED sekaligus anggota FOMC yang lain. Dibandingkan pidato para pejabat bank sentral tersebut, agaknya pasar lebih menantikan konferensi pers Presiden AS terpilih Donald Trump, yang akan digelar hari Rabu ini.