Asia akan Terlibat Tahun Konflik Mata Uang

Asia akan Terlibat Tahun Konflik Mata Uang
Asia akan Terlibat Tahun Konflik Mata Uang

Ketika perang dagang berakhir, Presiden AS Donald Trump meningkatkan konflik lainnya dalam perselisihannya dengan Tiongkok.

Dengan metriknya sendiri, Presiden AS Donald Trump kalah pada perang dagang ini, dengan sangat memalukan. Tentu saja, produk domestik bruto Tiongkok sedang berada dalam kesuksesan besar, dengan mengindahkan apa yang Beijing akui dalam data resminya.

Tren dalam ekspor, investasi aset tetap, dan pendapatan Apple Inc. adalah bukti dari penurunan aktivitas pasar.

Tetapi Trump memiliki tiga tujuan ketika ia mengenakan tarif pada barang-barang Tiongkok senilai 250 miliar USD, dua kali dalam jangka pendek dan satu kali jangka panjang. Dua yang pertama adalah sebuah pembalikan besar dalam tren defisit perdagangan dan perayaan Wall Street. Tujuan jangka panjang adalah menghentikan desain Tiongkok pada sektor-sektor utama yang mendominasi teknologi dan lainnya pada tahun 2025.

Namun, ketidakseimbangan bulanan Washington dengan Beijing baru saja mencapai rekor tertinggi. Hingga Oktober, ekspor dari AS ke Tiongkok turun hampir sebesar $ 1 miliar dari tahun sebelumnya yaitu sekitar $ 102 miliar. Terlebih lagi, defisit keseluruhan Washington dengan dunia sudah berada di jalurnya yang siap melonjak $ 100 miliar di bawah pengawasan Trump sejak awal 2017.

Krisis Lehman Brothers

Pada 2018, Dow Jones Industrial Average membukukan kerugian terburuknya sejak 2008, yang menjadi tahun krisis Lehman Brothers.

Tujuan ketiga dari upaya pencegahan naiknya Tiongkok tidaklah tercapai. Seperti yang telah dijelaskan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pidatonya ketika Tahun Baru, dorongan reformasi tidak akan “mandek”. Dengan kata lain, rencana ambisius “Made in China 2025” yang dikhawatirkan oleh Trump akan tetap berada pada jalurnya.

Baca juga: Merosotnya Mata Uang Asia di Sepanjang Tahun

Ketika perang dagang berakhir, Trump meningkatkan konflik berikutnya: pasar mata uang.

Trump memberikan beberapa rencana pertempuran dengan serangannya di Federal Reserve. Dia menghabiskan sebagian besar bulan Desember untuk membanting Ketua Fed yang dipilihnya sendiri, Jerome Powell, karena dinilai terlalu ketat, bahkan menyebutkan bahwa memiliki otoritas moneter paling kuat di dunia itu adalah hal yang “gila”.

Dapat diprediksi, hal ini justru memperdalam kekalahan saham. Selama ini belum pernah terjadi Gedung Putih secara terang-terangan mengecam The Fed yang memang bergerak secara independen tanpa adanya campur tangan politik. Namun, kekhawatiran yang sebenarnya adalah apa yang ada di balik pengecaman Trump-Fed: kemarahan atas penguatan dolar.

Selama dua tahun terakhir, Trump tidak merahasiakan kepercayaannya bahwa nilai tukar telah “membunuh kita”, dan bahwa pemerintah dari Beijing, Tokyo, hingga Seoul adalah sebuah rekayasa keuntungan dagang dengan mengorbankan para pekerja AS. Namun sayangnya, retorikanya tidak didukung oleh aksi nyata.

Memang benar, Menteri Keuangan Steve Mnuchin menyatakan sebuah akhir dari kebijakan dolar yang telah kuat selama 24 tahun pada Januari 2018 lalu. Gedung putih dengan cepat mundur karena pasar telah menguat.

Pada 2019, diperkirakan adanya dorongan mata uang baru. Salah satu motivasinya adalah pertumbuhan ekonomi AS yang telah kehilangan momentumnya. Trump ingin terus menjaga sumber utama legitimasinya. Tujuannya jelas, untuk mengingatkan Asia siapa bosnya.

Xi adalah target utamanya. Begitu juga dengan Shinzo Abe – Jepang dan Moon Jae – Korea Selatan, keduanya sedang bergulat dengan pertumbuhan ekonomi yang juga melambat.

Meskipun Abe adalah sahabatnya di antara para pemimpin dunia lainnya, Trump kesal karena Tokyo menunda negoisasi perdagangan bebas. Putus asa untuk menang di panggun global, pandangan Trump membuat Jepang mengimpor lebih banyak mobil Amerika sebagai pilihan terbaik.

Kurangnya Kemajuan

Untuk Korea Selatan, Trump sudah menurunkan amarahnya karena kurangnya kemajuan dalam denuklirisasi Korea Utara. Meskipun ini bukanlah pekerjaan Moon, tetap saja dia kecewa dengan Moon yang belum menegosiasikan perdamaian dengan Kim Jong Un.

Anehnya, semua ini menyebabkan Jepang dan Korea Selatan juga rentan terhadap melemahnya dolar. Bahkan saat ini, Abe dan Moon tengah menghadapi hambatan ekspor. Keduanya menghadapi kekecewaan tentang kurangnya keberhasilan dalam menaikkan upah pekerja, produktivitas, dan daya saing. Keduanya juga menghadapi permintaan Trump akan perjanjian non-manipulasi terkait mata uang.

Baca juga: Rupee Menjadi Mata Uang Terburuk di Asia pada 2018

Hal tersebut semacam kode untuk “Plaza Accord” yang baru. Kesepakatan 1985 itu, yang disusun di sebuah hotel milik Trump di New York, telah mendevaluasi dolar terhadap yen. Pada paruh kedua masa jabatannya, Trump diatur untuk dapat menggenggam Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan untuk menyetujui nilai tukar yang lebih kuat, yang nantinya, akan memberikannya kemenangan.

Mengingat bahwa Demokrat sekarang sedang mengendalikan Dewan Perwakilan Rakyat, prospek legislatif Trump telah mati. Dia akan mengandalkan tindakan eksekutif untuk mengubah narasi dari skandal dan investigasi yang mengaburkan kepresidenannya. Tuas termudah adalah mengintensifkan perang dagang dan bermain-main dengan nilai tukar mata uang.

Dengan kata lain, saatnya untuk melenturkan sabuk pengaman pada 2019 ini–dan perang Trump pun meluas ke mata uang Asia.

Sumber: asiatimes.com

Recent Post

Penggerak Pasar Untuk 22 Januari

Penggerak Pasar Untuk 22 Januari Penggerak Pasar Untuk 22 Januari. Pada hari Selasa, 22 Januari...

GBP/JPY Tetap Bertahan Dan Stabil

GBP/JPY Tetap Bertahan Dan Stabil. Sebelum dirilisnya data ketenagakerjaan dan upah di Inggris,...

Secara Umum Nilai Yen Lebih Tinggi Karena Ketakutan Pertumbuhan

Nilai Yen Lebih Tinggi Dengan Risk Aversion Secara Umum Nilai Yen Lebih Tinggi Karena Ketakutan...

Apa Itu Metatrader 4 (MT4)?

Metatrader 4 yang juga sering disebut sebagai MT4 merupakan platform trading online untuk forex,...

Mengapa Rand Afrika Selatan dan Peso Kolombia Tampak Paling Berisiko di 2019

Mengapa Rand Afrika Selatan dan Peso Kolombia Tampak Paling Berisiko di 2019 Tahun lalu...

Broker News

Apa pasangan mata uang yang paling sulit untuk diperdagangkan?

Jika Anda melihat panduan perdagangan Forex mana pun, Anda akan direkomendasikan untuk berdagang...

Metode Scalping Forex Terbaik

Jika Anda ingin mulai melakukan scalping di Forex, Anda perlu berpikir ulang tentang keseluruhan...

Apa yang Dimaksud Dengan Scalping Dalam Perdagangan Forex?

Ketika orang berbicara tentang trading Forex secara online dalam jangka pendek, mereka hampir...

Bagaimana Cara Trader Mengelola Risiko Perdagangan Mereka?

Manajemen risiko Forex adalah titik esensial tempat bergantungnya profitabilitas transaksi....

Apa Strategi Terbaik untuk Trading Jangka Pendek?

Trading short-term atau jangka pendek dapat menjadi sangat menguntungkan, namun juga berisiko...

Mau tau berita terbaru Forex Indonesia? Gratis!

Info Artikel dan promosi Terbaru, akan di email ke Anda

Popular Post this month

Cara Bermain Forex Untuk Pemula Tanpa Modal

Dari waktu ke waktu, cara bermain forex untuk pemula tanpa modal makin sering disebut-sebut sebagai...

Langkah Mudah Cara Main Olymp Trade

Trading Binary Option memang saat ini sangat digemari oleh banyak orang yang ingin mendapatkan...

5 Web Forex Indonesia Gratis Tanpa Deposit

Bagi para trader newbie atau pemula, website forex yang memberikan penawaran bonus gratis tanpa...

Pengertian Apa Itu Forex Trading

Apa Itu Forex? Forex, atau Foreign Exchange, adalah pasar tak terpusat dimana mata uang dunia...

Menelusuri Broker Yang Terdaftar Di BAPPEBTI 2017

Saat memilih broker forex, biasanya Anda akan berfokus pada berbagai kondisi trading seperti...