Gagal Saingi Euro, Dolar AS Berkutat Di Level Rendah

Berita Forex

Pergolakan dramatis antara Euro dan Dolar AS terjadi pada sesi trading Kamis malam (20/7) kemarin. Setelah tertekan cukup dalam menjelang dan sesudah pengumuman ECB, Euro berhasil membalik keadaan dan mengungguli Greenback. Sebabnya tak lain adalah pernyataan hawkish Mario Draghi yang menyinggung kemungkinan tapering. Seperti apa cerita selengkapnya? Berikut ini laporan berita forex yang dirangkum dari Investing.com.

dolar as tak mampu saingi euro

Draghi ‘Janjikan’ Kajian Ulang
Dalam konferensi pers yang digelar usai rapat ECB, Mario Draghi sebenarnya tidak mengutarakan kapan tepatnya Bank Sentral akan mulai mendiskusikan perubahan terhadap kebijakan moneter super longgar yang saat ini sedang dijalankan. Namun sebagaimana diungkapkan dalam berita forex kemarin, pimpinan ECB tersebut mengungkapkan jika para pembuat kebijakan akan kembali membahas topik itu di musim gugur.

Meski cuma sedikit menyinggung, komentar Draghi dicerna hawkish oleh pasar yang sudah bosan akan sikap dovish ECB selama beberapa tahun terakhir. Dalam berita forex terkait, Bill Northey dari U.S. Bank Private Client Group menekankan jika interpretasi hawkish ini mengesampingkan fakta bahwa ECB sebenarnya tidak mensinyalkan rencana normalisasi neraca keuangan, dan justru mempertahankan komitmen untuk menambah stimulus jika dirasa perlu.

Kekhawatiran Northey tampaknya tak digubris pasar yang mengabaikan keganjilan tersebut dan terus mendukung Euro. Nilai single currency itupun langsung melesat dan membuatnya tak terkejar oleh mata uang mayor lain, termasuk Dolar AS.

USD Akhiri Pekan Dengan Penurunan
Pasca konferensi pers Draghi yang melambungkan Euro, Greenback tampak bergerak lesu dan belum mampu memulihkan diri hingga penutupan pekan. Dikutip dari berita forex terbaru, indeks Dolar AS bergerak flat di level 94.322, tidak jauh dari low semalam (94.090) yang merupakan level terendah sejak Agustus 2016. Secara keseluruhan, USD telah membukukan penurunan 0.9% di minggu ini.

Kemerosotan Dolar AS tidak disebabkan satu hal saja, melainkan akumulasi dari beberapa faktor yang membebani sentimen beli terhadap mata uang tersebut. Pertama, rendahnya inflasi AS membuat pasar ragu akan janji The Fed yang masih “berhutang” satu kali lagi kenaikan suku bunga di tahun ini. Kedua, RUU yang dirancang pemerintahan Trump untuk menggantikan Obamacare kembali menemui jalan buntu. Berita forex mengenai kegagalan tersebut rupanya memberikan implikasi negatif, karena semakin membuktikan keraguan pasar akan janji Donald Trump yang dulu sempat mengumandangkan pemotongan pajak dan belanja infrastruktur untuk memacu perekonomian.

Meski sempat menerima berita forex positif dari klaim pengangguran yang kemarin dirilis di atas ekspektasi, Greenback belum mampu bangkit. Kondisi tersebut kemudian diperparah dengan bullish Euro yang saat ini telah menjadi salah satu tekanan besar.

Saat berita forex ini ditulis, EUR/USD sendiri masih betah bertahan di kisaran 1.16. Pair tersebut cuma sedikit berkonsolidasi di 1.1629 dari pencapaian puncaknya kemarin di level 1.1659. Sekedar informasi, raihan tersebut merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2015.