Analisa USD/JPY: Death Cross Bertepatan Dengan Sentimen Dovish Federal Reserve

Analisa Forex

Dalam istilah fundamental, kata “dovish” yang dihubungkan dengan suatu bank sentral menyiratkan perkembangan bearish bagi nilai mata uang yang diatur oleh bank sentral tersebut. Demikian pula saat ini. Pernyataan bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/FED) pasca rapat kebijakan bulan Juli 2017 cenderung dovish, sehingga indeks Dolar yang jadi barometer kekuatannya pun ambruk seketika dari kisaran 94.226 ke 93.396. Tak ayal, mata uang-mata uang mayor lainnya justru makin perkasa. Termasuk Yen Jepang. Bagi USD/JPY, ini berarti bias bearish cukup kuat.

Tak hanya dari sudut pandang fundamental. Pasangan USD/JPY juga menunjukkan tanda-tanda kelemahan lebih lanjut, dengan munculnya Death Cross.

Apa itu Death Cross?

Death Cross adalah persimpangan antara Moving Average dengan periode lebih rendah ke arah bawah garis Moving Average dengan periode lebih tinggi. Diantara standar yang sering dipakai trader adalah MA 50-Day sebagai Moving Average yang lebih rendah, dan MA 200-Day sebagai Moving Average yang lebih tinggi. Ketika MA 50-Day berpotongan dengan MA 200-Day dengan pose mengarah ke bawah, ini merupakan sinyal akan kuatnya arus seller di pasar (sinyal bearish).

Death Cross pada pair USD/JPY dapat dilihat pada timeframe Daily maupun 4-Hour, sebagaimana terlihat pada dua gambar berikut ini:

20170727-analisa-usdjpy-death-cross-bertepatan-dengan-sentimen-dovish-federal-reserve-1

20170727-analisa-usdjpy-death-cross-bertepatan-dengan-sentimen-dovish-federal-reserve-2

Bisa dilihat pada kedua gambar screenshot, bahwa MA 50-Day (garis merah) memotong MA 200-Day ke arah bawah. Hanya saja, belum ada candle yang ditutup sepenuhnya di bawah garis MA 200-Day maupun MA 50-Day. Ini artinya, sinyal bearish tersebut masih rentan “fake”. Apabila ternyata sinyal Death Cross ini “fake”, maka pergerakan harga bisa kembali ke naik, alias tidak benar-benar bearish.

Untuk memastikan bahwa sinyal ini tidak “fake”, ada baiknya untuk menunggu hingga ada candle yang ditutup sepenuhnya di bawah garis MA 200-Day maupun MA 50-Day. Akan tetapi, akibatnya nanti kita bisa telat masuk pasar. Solusinya, buka pair USD/JPY di timeframe yang lebih rendah lagi, misalnya timeframe Hourly (1H). Pasang indikator tipe Stochastic seperti Stochastic Oscillator, CCI, atau RSI. Carilah tanda-tanda overbough atau sinyal Sell, dan Anda bisa entry dari situ.

Baik Moving Average maupun Stochastic bisa dipasang dengan mudah di platform trading kita, termasuk di Metatrader4 (MT4). Tambahkan saja dari menu Indikator yang telah tersedia.